"Beberapa hari ini banyak warga yang datang ke Pos Pengamat Gunung Merapi Jrakah, untuk menanyakan itu, tetapi kami juga tidak bisa memberikan jawaban pasti," kata Yulianto petugas Pengamat Gunung Merapi Jrakah, Jumat (21/04).
Ia mengatakan, aktivitas Gunung Merapi yang terletak di antara daerah perbatasan Provinsi Jateng dengan D.I. Yogyakarta, hampir setiap hari tertutup kabut tebal, sehingga tidak bisa dilihat dari pos ini, dan hanya bisa dipantau aktivitasnya melalui pencacat gempa saismograf.
"Kami belum pernah lihat puncak gunung itu, sehingga untuk memperkirakan guguran lava itu mengarah kemana juga belum bisa apabila sewaktu-waktu meletus, dan juga belum pernah melihat ada titik api," katanya.
Untuk bulan April sampai Mei, memang, biasanya di gunung ini musim kabut, meskipun demikian petugas yang ada disini juga tidak putus asa, petugas tetap memonitor, dan hasilnya ya masih seperti ini. Ia mengatakan, untuk aktivitas Merapi Jumat (21/04) dari pukul 00.00 - 06.00 WIB tercatat gempa volkanik tipe B dua kali, multi pase (MT) 31 kali dan guguran lava dua kali.
Untuk Kamis (20/04) tercatat gempa volkanik tipe B 13 kali, multi pase (MT) 154 kali, guguran lava sembilan kali, gempa tektonik sekali dan gas (LF) sekali.
Getaran dan suara gemuruh Merapi meskipun beberapa hari belakangan ini dirasakan semakin menguat, aktivitas masyarakat yang tinggal di daerah bahaya satu (ring I) tetap berjalan normal seperti biasa.
Warga di daerah itu juga masih pergi keladang untuk memanen kobis, dan wortel, serta ada yang mencari rumput untuk pakan ternaknya.
Mereka pada malam hari juga tidak ada yang mengungsi ketempat-tempat pengungsian yang telah disediakan pemerintah.
Camat Selo, Kabupaten Boyolai Dahat Wilarso, yang didamping Kapolsek daerah tersebut AKP Dwi Priyatno mengatakan, untuk tempat-tempat pengungsian apabila Merapi sewaktu-waktu meletus semuanya telah disiapkan.
Pembuatan jalan tembus sepanjang sekitar satu kilometer, dan lebar empat meter untuk jalan pengungsian dari dukuh Bangunsari yang masuk ring I ke Jrakah, sekarang juga sudah mulai dikerjakan dan diharapkan Senin (24/04) sudah bisa di lewati kendaraan roda empat meskipun belum diaspal.
Pembuatan jalan alternatif untuk pengungsian 36 kepala keluarga yang tinggal di dukuh Bangunsari ke Jrakah ini dibiayai dana APBN.
"Kami tidak tahu nilai dananya, yang penting jalan itu selesai," katanya. Ia mengatakan, pemasangan tenda-tenda untuk tempat pengungsian sebenarnya sudah dilakukan beberapa hari lalu, seperti didirikan satu tenda di dukuh Sepi, delapan tenda di lapangan Selo, yang kesemuanya juga di lengkapi peralatan lainnya dan logistik serta obat-obatan.
Setiap tenda itu mampu menampung antara 50 orang sampai 100 orang. Untuk daerah yang masuk bahaya satu seluruhnya ada delapan dukuh dengan jumlah penduduk tercatat 4.494 jiwa, yaitu meliputi dukuh Sepi (1.275 jiwa), Sumber (373 jiwa), Bakalan (628 jiwa), Bangunsari (136 jiwa), Klakah Duwur (570 jiwa), Stabelan (348 jiwa), Takeran (394 jiwa) dan Kajor (770 jiwa).
Warga yang tinggal di daerah tersebut yang perlu mendapat perhatian, karena letaknya dekat dengan puncak Merapi, meskipun juga tidak mengesampingkan daerah lain, kata Dahat Wilarso.
Ketua Paguyuban Perantau Asal Boyolali Sejabotabek, dan Banten H. Budi Santoso mengatakan, warga asal Boyolali yang merantau siap memberikan bantuan apabila Merapi meletus.
"Anggota kami yang merantau di daerah tersebut ada sekitar 17 ribu orang, dan mereka menyatakan siap memberi bantuan apa yang diminta warga apabila memang Merapi itu meletus, dan saya datang ke Selo ini juga untuk mengecek situasi dan kondisi yang ada," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya setelah pulang dari Selo nanti akan terus bekerja mengumpulkan dana dari anggota, sehingga apabila dibutuhkan sewaktu-waktu, dananya siap.
"Saya menghimbau untuk seluruh warga Boyolali yang merantau ada kepedulian untuk saudaranya yang tinggal di daerah tersebut, dengan memberi bantuan dana atau yang lainnya apabila Merapi sewaktu-waktu meletus," kata H. Budi Santoso. (*/lpk)