"Pertemuan dijadwalkan Senin (24/4) pukul 09.00 WIB," kata Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Lukman Purnomosidi di Jakarta, Minggu malam.
FIABCI yang berkedudukan di Paris, Perancis, menurut Lukman, akan berbagi pengalaman di negara-negara lain dalam pengadaan rumah murah (low cost housing) agar dapat menjadi masukan bagi negara yang ingin membangun rumah murah.
Mereka memiliki formula dalam membangun rumah dengan harga terjangkau mulai dari pengadaan lahan sampai dengan soal pembiayaan. Meski di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda, mungkin ada input yang bermanfaat, katanya.
Sedangkan menurut Dato` Alan Tong Kok Mau, untuk rumah murah diperlukan keterlibatan pemerintah dalam pengadaan lahan serta sumber dana karena terkait dengan kemampuan ekonomi masyarakat berpendapatan rendah.
Ia mencontohkan kasus pemerintah Hong Kong dalam menanggulangi imigran China dengan mendirikan bangunan bertingkat (high risk building), namun dengan jumlah unit lebih banyak dengan ukuran kecil.
Setiap unit tersebut disediakan fasilitas kamar mandi dan dapur, kemudian untuk pembagian ruang-ruangnya diserahkan kepada penghuni. Mereka cukup membangun partisi di dalam unit tersebut.
Nanti setelah kesejahteraan meningkat mereka akan memperbaiki hunian menjadi lebih baik atau pindah ke hunian lebih baik.
Hal ini juga dilakukan Malaysia dengan membangun 20.000-30.000 unit dengan tarif murah. Untuk meningkatkan kesejahteraan, Malaysia antara lain menyewakan pasar malam untuk berdagang dengan membayar hanya lima ringgit Malaysia satu malam.
Selain bertemu dengan Meneg Perumahan Rakyat, delegasi FIABCI yang akan berada di Indonesia selama tiga hari itu dijadwalkan juga akan bertemu dengan Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Setidaknya ada 2 issue yang akan dibahas yakni mengenai pengadaan rumah murah dan pemilikan properti bagi orang asing. (*/rit)