"34 pasien suspect flu burung yang meninggal di RSPI, 12 di antaranya positif terkena flu burung," kata Kepala Badan Informasi Publik (BIP), Suprawoto dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kabid Informasi Politik BIP, Sumarno Partodiharjo pada acara Forum Dialog Flu Burung, di Semarang, Kamis.
Menurut dia, 177 pasien suspect flu burung yang dirawat di RSPI Jakarta hingga akhir Maret 2006 terdiri atas 90 pasien pria dan 87 pasien perempuan.
Ia mengatakan, meluasnya kasus penyakit mematikan tersebut membuat pemerintah menetapkan sebagai kejadian luar biasa dan berusaha untuk menanggulanginya, karena pemerintah tidak menginginkan terjadi pandemi flu burung di Indonesia.
Namun, katanya, pemerintah menyadari upaya penanggulangan dan pencegahan penyakit flu burung --yang penyebarannya hingga kini masih misterius-- tidak akan berhasil dengan baik tanpa adanya bantuan dari kalangan masyarakat.
Sejak ditemukan kasus flu burung di Indonesia pertengahan tahun 2003 hingga Februari 2006 tercatat jutaan unggas yang mati atau dimusnahkan akibat terkena virus AI yang mematikan itu, katanya.
Ia mengatakan, meskipun media massa cukup gencar memberitakan flu burung, belum semua masyarakat memahami penyakit flu burung, baik menyangkut penularan ke manusia, cara penanggulangan, pencegahan, dan menyikapi AI.
"Kalangan masyarakat hingga kini masih ada yang tidak mau melapor jika ada unggas yang mati mendadak, malah membuangnya begitu saja disembarang tempat. Bahkan ada yang menolak pemusnahan unggas, padahal berdasarkan pemeriksaan positif terserang AI," katanya.
Ia mengatakan, maraknya penyakit AI memunculkan adanya penolakan mengonsumsi daging ayam, telor, produk unggas lainnya, dan sikap pengucilan keluarga yang anggotanya dicurigai meninggal akibat AI.
Suprawoto menegaskan, semua pihak tidak menginginkan terjadinya pandemi AI, karena risikonya sangat besar. Bukan hanya akan menelan banyak korban jiwa, tetapi akan berdampak buruk terhadap ekonomi, sosial, dan politik.
"Jika pandemi AI benar-benar terjadi, bangsa kita yang masih dililit banyak masalah pelik dapat diprediksikan akan semakin terpuruk dan menderita, sehingga tak ada pilihan lain kecuali berusaha mencegah dan menanggulangi meluasnya penyakit flu burung," katanya. (*/rit)