Hingga bulan April 2006, di Jateng terdapat 763 kasus HIV/AIDS, terdiri 623 kasus pengidap infeksi HIV, 104 positif AIDS, dan 83 orang di antaranya meninggal dunia, katanya pada 'Pertemuan Komitmen Daerah dalam Penanggulangan HIV/AIDS' di Semarang, Jumat (05/05).
Ia mengatakan, kasus pengidap infeksi HIV di Jateng pertama kali ditemukan tahun 1993 di Kabupaten Pemalang yang kemudian manifes menjadi AIDS dan akhirnya meninggal. Kasus AIDS pertama di Indonesia dilaporkan tahun 1987.
Secara nasional hingga 31 Maret 2006 dilaporkan 10.156 kasus terdiri 4.333 HIV, 5.823 AIDS (24,56% meninggal). Jumlah yang sebenarnya tidak diketahui, estimasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tahun 2004 antara 90 ribu hingga 130 ribu.
Budihardjo mengatakan, hampir seluruh kabupaten/kota di Jateng telah melaporkan kasus HIV/AIDS.
Kendati demikian, kata dia, dukungan kegiatan lintas sektor maupun penganggaran dari pemerintah daerah masih sangat minim.
"Saat ini kita memprioritaskan penanggulangan HIV/AIDS pada 10 kabupaten/kota," katanya.
Ia lantas menyebutkan 10 kabupaten/kota, yakni Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kabupaten Banyumas, Pati, Tegal, Kendal, Batang, Cilacap, dan Kabupaten Semarang.
Menurut dia, melawan HIV/AIDS membutuhkan keberanian dan komitmen yang besar dari para pemimpin untuk langsung memimpin perlawanan terhadap penyakit HIV/AIDS bukan memerangi orangnya.
"HIV/AIDS membutuhkan kepemimpinan yang siap melawan arus opini publik karena permasalahan HIV/AIDS sangat kompleks bukan saja masalah kesehatan," katanya.
Selain sektor kesehatan, katanya, sektor pemerintah lain seperti agama, peranan wanita, BKKBN, sosial, pendidikan, perhubungan, pariwisata, tenaga kerja, dan pertahanan dapat berperan dalam program penanggulangan HIV/AIDS. (*/rit)