"Dari tadi malam mereka berangsur-angsur `mbolos` dari pengungsian hingga tadi pagi sekitar pukul 10.00 WIB sudah habis," kata Kepala Desa Kalibening Titik Sulistyowati di Magelang, Rabu.
Para pengungsi itu antara lain berasal dari Dusun Windusari, Kalibening Wetan, Kalibening Kulon, Gintung, Demo.
Mereka mulai berada di pengungsian Gedung Korps Pegawai Republik Indonesia (KPRI) dan Panti Asuhan Yatim Kecamatan Dukun sejak Senin (15/5) saat terjadi semburan awan panas seperti cendawan raksasa dari puncak Merapi.
Jumlah penduduk Desa Kalibening yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari puncak Merapi sebanyak 2.494 jiwa berasal dari sembilan dusun yang termasuk daerah rawan bencana Merapi.
Ia menyebut berbagai alasan yang dikemukakan para warganya untuk meninggalkan lokasi pengungsian meskipun status aktivitas vulkanik Merapi hingga saat ini masih Awas Merapi.
Alasan mereka meninggalkan tempat pengungsian antara lain, untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan di rumah seperti bertani dan beternak. Sedangkan pada malam hari berjanji kembali ke pengungsian.
Berbagai bekal yang mereka bawa ketika menuju pengungsian Senin (15/5) dibawa pulang kembali ke rumah dengan alasan hendak dicuci.
"Tetapi saya ragu kalau mereka mau kembali kesini," katanya ketika ditemui di tempat pengungsian Gedung KPRI setempat itu.
Pihaknya telah berupaya membangun suasana betah agar warganya tetap berada di pengungsian antara lain menggelar pentas hiburan di Gedung KPRI tetapi mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing.
Hingga saat ini sebanyak 422 pengungsi asal Kalibening masih berada di tempat pengungsian Balai Desa Ngadipuro Dukun. (*/rit)