"Yang punya otoritas rekomendasi itu adalah BPPTK, sampai sejauh ini rekomendasi ini belum kita terima, kita mengikuti rekomendasi dari BPPTK," kata Bupati Magelang Singgih Sanyoto di sela mengunjungi kegiatan belajar mengajar SD Negeri 2 Srumbung yang siswanya saat ini gabungan dengan siswa MI Ma'arif Desa Ngablak setelah terjadi pengungsian warga Merapi di sekolah itu di Magelang, Senin (22/05).
Berdasarkan rekomendasi BPPTK tentang perkembangan aktivitas vulkanik Merapi, katanya, maka pihaknya mengambil langkah-langkah penting untuk memutuskan lanjutan penanganan pengungsian warga asal desa-desa rawan bencana Merapi.
Ia mengaku tidak seluruh pengungsi dipulangkan secara bersama-sama ke desa masing-masing.
Tetapi, katanya, pemulangan terhadap mereka tetap harus memperhatikan kondisi desanya, apakah sudah aman atau belum.
"Nanti kalau sudah ada rekomendasi lalu kita evaluasi untuk kita sendiri, desa-desa mana yang kira-kira masuk rekomendasi itu, nanti kita putuskan langkah selanjutnya," katanya.
Hingga saat ini warga lereng Merapi wilayah Kabupaten Magelang yang masih berada di berbagai penampungan sekitar sembilan ribu jiwa.
Jumlah terbesar pengungsian warga setempat sekitar 11 ribu jiwa saat terjadi luncuran awan panas raksasa Senin (15/5).
Pada kesempatan itu Singgih menyatakan, kesulitan menempatkan warga lereng Merapi asal satu desa di satu tempat pengungsian.
"Memang kesulitannya ada yang satu desa tidak bisa di beberapa lokasi, mintanya mereka dari satu desa kumpul di satu lokasi, tidak mau kita pisah," katanya.
Ia mencontohkan, warga di pengungsian Jumoyo Kecamatan Salam yang jumlahnya sekitar 1.900 jiwa berasal dari Desa Kaliurang Kecamatan Srumbung.
"Mereka tidak mau dipisah, tetapi di Tanjung mereka mau digabung dengan desa lain," katanya.
Padahal pihak pemda sudah memberikan penjelasan kepada warga tentang kondisi penampungan pengungsi sebelum mereka menempatinya, kata Singgih Sanyoto. (*/lpk)