"Kemarin pasien tersebut dinyatakan positif terinfeksi virus flu burung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan," kata Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun ketika dihubungi dari Jakarta, Jumat (02/05).
Data Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung Departemen Kesehatan menyebutkan Y mulai menderita demam disertai batuk dan sesak nafas pada 26 Mei 2006 dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Selatan pada 30 Mei 2006 sekitar pukul 16.00 WIB.
Setelah melihat gejala pneumonia paru pada foto rontgen pasien pihak Rumah Sakit Fatmawati lantas merujuk pasien ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso pada 1 Juni 2006 namun pasien meninggal dunia ketika tiba di rumah sakit yang dituju.
Saat ini ayah, ibu dan kakak korban juga mengalami gejala serupa influenza meski tidak parah namun mereka tidak bersedia dirawat di Rumah sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso.
"Mereka sudah dipaksa masuk ke rumah sakit tapi tidak mau dan sudah menandatangani surat pernyataan penolakan," kata petugas Posko KLB Flu Burung Departemen Kesehatan, dr. Nadhirin.
Ia menjelaskan di sekitar lingkungan tempat tinggal Y terdapat sejumlah faktor resiko yang kemungkinan menjadi sumber penularan virus flu burung yang menginfeksi gadis kecil itu.
Nadhirin mengatakan di belakang rumah korban terdapat kandang ayam dan beberapa hari sebelumnya ayam milik keluarga korban mati.
"Di lingkungan tempat tinggal korban juga terdapat tempat pemotongan ayam dan pada 28 Mei 2006 sejumlah ayam di lingkungan RT tempat korban dan keluarganya tinggal juga mati," tambahnya.
Ia menjelaskan pula bahwa saat ini petugas dari Dinas Kesehatan setempat sudah mengambil sampel darah sejumlah warga yang tinggal di sekitar tempat tinggal korban untuk diteliti.
Sebelumnya M (15), seorang lelaki warga Desa Cikululu Kecamatan Karang Nunggal Kabupaten Tasikmalaya yang meninggal pada 30 Mei 2006 setelah dirawat di rumah sakit karena demam dan pneumonia, juga dinyatakan positif terinfeksi virus AI H5N1 oleh laboratorium Balitbangkes Departemen Kesehatan.
Menurut penelitian tim surveilans Departemen Kesehatan, seminggu sebelum sakit lima ayam milik korban dan sekitar 40 ternak ayam kakeknya juga mati mendadak.
Guna memutus mata rantai penularan virus mematikan tersebut pada 1 Juni pemerintah daerah setempat melakukan pemusnahan sekitar 1.600 unggas yang berada di radius satu kilometer dari tempat tinggal korban.
Pemusnahan unggas secara massal juga direncanakan dilakukan di Kabupaten Karo menyusul munculnya kasus flu burung berkelompok pada manusia (klaster) terbesar di daerah itu. (*/lpk)