"Fasilitas kesehatan setempat sudah terlalu penuh, khususnya karena banyak orang yang belum bisa kembali ke rumah," demikian diumumkan kantor PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (OCHA) yang meluncurkan program Earthquake Response Plan (ERP) di New York, berkaitan dengan bencana yang telah menewaskan lebih dari 6.000 orang itu.
Belasan agen-agen PBB akan membantu program itu dalam berbagai bidang, baik berupa bantuan kesehatan, makanan dan perlindungan anak, maupun untuk keperluan pembangunan, lapangan kerja, dan urusan kebudayaan.
Mereka bekerja sama dengan lembaga-lembanga swadaya masyarakat dalam upaya kemanusiaan di Yogyakarta.
Di bawah program ERP tersebut, OCHA juga akan melihat keperluan-keperluan di luar bantuan darurat untuk tahap awal rehabilitasi.
Berdasarakan informasi dari Pemerintah Indonesia, gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter itu telah menewaskan sekitar 6.200 orang di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Selain itu 200.000 orang kehilangan tempat tinggal dan lebih dari 50.000 orang harus dirawat di 31 rumah sakit lokal, rumah sakit lapangan, pusat-pusat kesehatan dan juga rumah sakit berjalan.
Sekitar 140.000 rumah, 269 sekolah, 302 gedung pemerintah, 284 tempat ibadah, dan 50 kilometer jalan dan jembatan mengalami kerusakan.
Program ERP senilai US$103 juta tersebut, yang juga melibatkan kantor-kantor PBB, Palang Merah Internasional, Bulan Sabit Merah, dan LSM, dilakukan dengan melihat kebutuhan yang paling mendesak untuk tahap awal rehabilitasi. (*/lpk)