Heat pun lolos ke final untuk pertamakalinya dalam 18 tahun sejarah mereka dan akan menghadapi pemenang final Wilayah Barat antara Dallas Mavericks dan Phoenix Suns.
"Pekerjaan kami baru dimulai. Para pemain tampil hebat dan menghantam mereka," kata pelatih Miami, Pat Riley.
Kegemilangan sang bintang Shaquille O'Neal dan lemparan jitu dari Jason Williams bisa menutupi penampilan Dwayne Wade yang terserang flu.
Miami membalas dendam atas kekalahan yang mengecewakan pada final wilayah tahun lalu. Ketika itu mereka sempat memimpin dua menit sebelum game ketujuh berakhir namun Detroit berhasil bangkit dan menaklukkan mereka.
Pada pertandingan tahun lalu itu Wade mengalami cedera tulang rusuk. Kini Wade kembali tidak bisa menampilkan 100% kemampuannya setelah absen berlatih dan diinfus di rumah sakit sebelum menghadapi Detroit, dimana ia bermain selama 37 menit.
Namun O'Neal menunjukkan taji 'Shaq Attack' dan Williams akhirnya menemukan sentuhan lemparannya. Heat unggul sejak kuarter pertama dan melejit pada kuarter ketiga, periode dimana Wade mulai beraksi.
O'Neal mengakhiri pertandingan dengan 28 poin dan merebut 16 rebound. Williams melesakkan 10 lemparan pertamanya sebelum gagal pada dua lemparan berikutnya, mengakhiri pertandingan dengan 21 poin.
Sementara Wade mencetak 14 angka dan membagi 10 assist. Ia tidak tampil pada awal babak kedua karena harus diinfus namun kemudian mencetak delapan angka terakhir Miami pada kuarter ketiga untuk membuka keunggulan 72-53.
"Kami sebelumnya tidak tahu jika Dwayne akan bermain. Kami hanya merasa ia akan hadir disini. Sedangkan Shaquille adalah Shaquille. Ia tidak akan pernah merasa puas," ujar Riley.
Pistons memiliki rekor kemenangan 11-2 pada setiap game penentuan dalam empat tahun terakhir, termasuk 3-0 tahun ini. Tetapi kali ini mereka tidak bisa menyelamatkan diri, mungkin ini pertanda pergantian kekuasaan di Wilayah Timur.
Richard Hamilton harus melakukan 28 lemparan untuk mencetak 33 angka bagi Pistons, yang mencetak rekor kemenangan 64 kali pada musim reguler namun kehilangan tenaga mereka pada playoff.
Keinginan untuk menghindari game ketujuh di Detroit, Miami langsung menggebrak pada awal pertandingan. Pada kuarter pertama mereka memasukkan 10 lemparan beruntun, tak satupun dilakukan Wade.
Williams dan O'Neal masing-masing memasukkan empat bola sebelum lemparan tiga angka dari Antoine Walker membuat kedudukan menjadi 25-16. "Shaq memimpin mereka. Mereka tampil menyerang," kata Hamilton.
Pistons mencoba mendekat hingga 42-36, melalui lemparan tiga angka Rasheed Wallace saat kuarter kedua tersisa dua menit 18 detik. Namun hingga jeda mereka tidak bisa lagi mencetak angka, dan O'Neal membantu Miami memimpin 47-36.
Pada kuarter ketiga, Wade terlambat keluar dari ruang ganti pemain sementara O'Neal harus duduk di bangku cadangan setelah melakukan empat kali pelanggaran.
Tetapi Williams menjaringkan dua lemparan lompat dan sebuah lemparan tiga angka untuk menjauh 64-49. Lalu Wade mulai menunjukkan dirinya, memasukkan empat lemparan beruntun untuk menutup kuarter tersebut.
"Kadang ketika anda tidak bisa memasukkan lemparan, anda seperti kehabisan bensin. Kami berjuang keras. Shaq sangat hebat dan Jason Williams menjadi faktor menentukan, memasukkan 10 dari 12 lemparannya," kata pelatih Pistons, Flip Saunders.
"Tim ini (Pistons) telah mengalami musim yang fenomenal. Kami lolos ke final wilayah empat tahun berturut-turut. Para pemain menjalani banyak pertandingan besar, dan itu bisa membuat anda lelah. Saya pikir kami mengalami tahun yang hebat, tetapi tentu saja hanya satu tim yang akan berjaya, sementara 29 tim lainnya akan gagal," ujar Saunders. (*/bun)