"SPBU-SPBU itu tidak lagi menjual solar. Kita ganti semua solar dengan biosolar (produk biodiesel Pertamina)," kata juru bicara Pertamina M Harun di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, langkah tersebut merupakan upaya mengurangi konsumsi solar bersubsidi. Sebab, dalam produk biosolar tersebut mengandung lima persen minyak nabati dan 95% solar bersubsidi.
Saat ini, produk biosolar yang baru diluncurkan Pertamina bulan lalu sudah dijual di empat SPBU yakni Jl Industri Kemayoran, Mampang dan dua berlokasi di TB Simatupang.
Menurut Harun, sejauh ini, respon masyarakat cukup tinggi terhadap biosolar. "Rata-rata penjualannya mencapai 20 kiloliter per SPBU," katanya.
Dikatakannya, produk biosolar cenderung disukai karena sejumlah kelebihan seperti pembakaran lebih bersih, memperpanjang umur mesin, dan ramah lingkungan. "Sementara harganya sama dengan solar bersubsidi yakni Rp4.300 per liternya," katanya.
Biodiesel yang merupakan pengganti solar termasuk jenis biofuel atau bahan bakar nabati. Bahan baku biodiesel bisa 100% minyak nabati seperti kelapa sawit dan jarak pagar (B100) atau dicampur dengan solar (Bxx).
Jenis biofuel lainnya adalah bioetanol sebagai pengganti premium, biooil sebagai pengganti minyak tanah dan bakar, serta biogas sebagai pengganti minyak tanah. (*/erl)