"Kami memang mulai melakukan babak implementasi di lapangan, namun sebagian tim ITS di lapangan tampak kuatir terhadap warga yang menyangka tim ITS adalah para pekerja dari Lapindo Brantas," ungkap sekretaris tim ahli ITS, Dr Makky S Jaya.
Ia menjelaskan, kehadiran tim ITS yang mengenakan seragam lapangan dengan topi proyek, agaknya membuat munculnya berbagai macam pertanyaan dari warga tentang kepastian kapan musibah yang melanda daerah mereka dapat teratasi.
"Sungguh kami was-was dengan kehadiran warga di sekitar lokasi yang menyangka kalau kami adalah orang-orang lapangan dari Lapindo Brantas. Padahal kami tim ITS yang ingin melakukan survey lapangan untuk segera merealisasikan penanganan musibah di sana," tuturnya.
Ia mengaku, pihaknya dapat memahami psikologi massa dari warga di sana. Karena itu, tim ITS kini dilengkapi dengan identitas yang menandakan kalau mereka merupakan tim dari ITS yang datang untuk membantu.
Menurut Makky yang juga tergabung dalam tim bawah permukaan (sub-surface) itu, ada empat tim yang dibentuk ITS untuk menangani bidang berbeda dengan tugas yang bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan alternatif pemecahan terhadap kasus lumpur alami itu.
"Tim yang menangani masalah lumpur permukaan kini sedang berada di lapangan, sesuai dengan skenario yakni melakukan pembuatan kolam ponds untuk menampung proses sedimentasi lumpur, kemudian memisahkan antara lumpur dan air formasinya," paparnya.
Namun, pembuatan kolom ponds juga tidak berjalan mulus, karena beberapa warga justru meminta alat berat yang disiapkan untuk membangun ponds itu diarahkan untuk membuat tanggul.
"Tim ITS lainnya yang tergabung dalam tim bawah permukaan (sub-surface) juga sedang melakukan kajian untuk memetakan struktur tanah bawah permukaan, agar mengetahui lineasi zona rekahan, rupture atau fracture," ujarnya.
Selain itu, tim sub-surface juga sedang memetakan kemungkinan adanya konsentrasi lumpur bawah permukaan, untuk mengetahui apakah lumpur terkonsentrasi di zona-zona bawah permukaan tertentu serta mengetahui seberapa luas distribusi zona itu dan di mana saja.
"Kalau sudah, kami akan membuat pemantauan geofisis semburan lumpur dari bawah permukaan. Yang terakhir ini dilakukan untuk membuat early warning system dalam 'menjebak' lumpur yang akan ke permukaan," tambah Makky.
ANTARA mencatat, dalam pertemuan ITS dengan jajaran Lapindo Brantas Inc, Pemkab Sidoarjo dan beberapa instansi terkait lainnya di tingkat propinsi di rektorat ITS Surabaya (14/06), telah disepakati untuk menangani lumpur permukaan dengan proses sedimentasi lumpur pada kolam-kolom ponds, agar lumpur dan air formasinya terpisah.
Setelah itu, air formasi itu dilakukan treatment untuk dapat dinyatakan sebagai air yang benar-benar masuk kategori aman dan tidak berbahaya untuk dibuang ke Kali Porong.
Untuk membuang air ke kali Porong itu, diperlukan perhitungan dan koordinasi dengan pihak terkait, mengingat debit air di Kali Porong pada musim kemarau mencapai titik nol, sehingga jika tidak tepat akan justru menyebabkan terjadi pendangkalan.
Dalam pertemuan di rektorat ITS Surabaya itu, tim ahli ITS sempat memperdebatkan lokasi pembuangan air formasi yang sudah di-treatment itu, apakah ke Kali Porong atau ke sistem irigasi sekitar.
Namun, akhirnya disepakati untuk membuang ke Kali Porong, agar sawah penduduk tidak terendam dan kota Sidoarjo juga tidak tenggelam, akibat keberadaan sistem irigasi di Porong sebagai drainase penyanggah untuk Sidoarjo di saat musim penghujan. (*/lpk)