Saat menghadapi Brazil, Minggu, Australia berhasil menahan juara bertahan untuk waktu yang cukup lama dan kemudian menerapkan strategi menyerang namun pada akhirnya kalah 2-0.
Pasukan Guus Hiddink itu telah mengumpulkan tiga poin, lebih baik dua angka dibandingkan Kroasia, yang imbang 0-0 dengan Jepang pada pertandingan sebelumnya di Nuremberg, serta memiliki selisih gol yang lebih baik. Mereka akan menghadapi semifinalis Piala Dunia 1998 itu di Stuttgart, Kamis.
Kondisi moral pemain Australia masih baik meski baru saja ditundukkan juara dunia lima kali Brazil, karena mereka sebenarnya lebih menguasai pertandingan pada babak kedua.
"Itu adalah salah satu permainan terbaik kami. Dengan sedikit keberuntungan, kami bisa mendapat sesuatu dari pertandingan itu. Kami hanya tidak beruntung," kata bek Scott Chipperfield.
"Kami tahu sebelum turnamen bahwa semuanya akan ditentukan pada pertandingan melawan Kroasia dan kami menantikannya. Kami hanya membutuhkan hasil imbang melawan Kroasia, tetapi kami akan memenanginya. Itulah gaya kami," ujarnya.
Pemain depan Harry Kewell menyetujui pandangan rekan setimnya itu.
Kewell, yang menjadi cadangan dan baru bermain pada menit 56 menggantikan Tim Cahill, mengatakan pertandingan melawan Kroasia sangat penting bagi kebangkitan sepakbola Australia.
"Pertandingan itu sangat penting untuk kami dan Australia. Sungguh sangat berarti bagi kami dan para pendukung Australia untuk bisa lolos (ke 16 besar)," kata pemain Liverpool itu.
"Saya pikir kami tidak akan menghadapi Kroasia hanya untuk mendapat hasil imbang. Saya pikir kami harus berusaha menang karena itulah gaya kami. Kami tidak bermain sepakbola lembek, kami bermain untuk menang," lanjutnya.
"Kami membuktikan hal itu hari ini. Kami tidak takut untuk melawan Brazil dan saya bangga karena semua pemain menunjukkan siapa diri kami sebenarnya," jelas Kewell.
Ia lalu menjelaskan ketegangan yang tampak antara dirinya dan wasit asal Jerman Markus Merk usai pertandingan melawan Brazil.
"Itu hanyalah emosi usai pertandingan. Saya pikir wasit akan mempertimbangkan rasa frustrasi saya karena kalah dalam pertandingan. Semua wasit tahu itu, itu adalah bagian dari sebuah pertandingan," jelasnya.
"Ia tahu saya tidak bermaksud buruk. Saya merasa frustrasi karena kami bermain sangat bagus melawan juara dunia namun kalah," Kewell melanjutkan.
Ia juga menyatakan tidak merasa kesal terhadap pelatih Guus Hiddink meski tidak dimainkan sejak awal. Meskipun dianggap sebagai pemain terbaik Australia, Kewell belum sepenuhnya pulih dari cedera paha yang dideritanya saat membela Liverpool pada final Piala FA.
"Ia adalah pelatih yang hebat. Ini adalah permainan tim dan anda harus memainkan peran Anda, itulah yang ia inginkan. Anda harus bersyukur atas setiap kesempatan yang diberikannya," kata pemain berusia 27 tahun itu. (*/cax)