"Kami akan melakukan survey terhadap tiga tower yang dirubuhkan orang tak bertanggungjawab itu. Kalau memungkinkan, kita dirikan tower darurat sambil menunggu pembangunan kembali tiga tower refresentatif yang telah rusak akibat ulah orang tak dikenal itu," kata Manejer UPT PT (persero) PLN, Syamsir Alam, kepada wartawan di Banda Aceh, Senin.
Ia menjelaskan, untuk mendirikan satu unit tower darurat itu dibutuhkan waktu selama tiga hari dengan melibatkan belasan tenaga kerja. Material untuk mendirikan tower darurat itu sudah dipersiapkan, namun untuk pemasangannya, PLN akan melakukan survey di lokasi.
Menurut dia,dampak yang cukup besar dari aksi penumbangan tiga tower itu cukup luas dirasakan masyarakat, terutama para pelanggan listrik PLN. Total tower listrik interkoneksi sepanjang pesisir pantai timur (Banda Aceh-Pulau Brandan) itu sebanyak 1.507 buah.
"Yang jelas, tiga wilayah yakni Kabupaten Aceh Utara, Bireuen dan Lhokseumawe, gelap total untuk beberapa pekan mendatang jika masalah tower itu belum bisa di atasi akibat penumbangan tiga tower pelayanan listrik interkoneksi Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh," tambahnya.
Selain tiga wilayah itu, para pelanggan masing-masing di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Timur, Kota Banda Aceh dan Pidie, juga terkena dampak akibat penebangan tiga unit tower di Aceh Timur.
"Enam wilayah itu terpaksa harus menerima distribusi arus listrik secara bergilir. Artinya, ada pemadaman bergilir sambil menunggu pembangunan kembali tower yang dirubuhkan itu," tambahnya.
Suplai energi listrik untuk kebutuhan pelangan di sepanjang pesisir pantai timur Aceh melalui jaringan interkoneksi Sumut-Aceh sistem Medan itu sebesar 120 mega watt (mw).
Lebih lanjut, Syamsir menjelaskan kasus penumbangan tower yang dilakukan orang tak dikenal itu telah dilaporkan kepihak aparat kepolisian untuk pengusutan lebih lanjut
Dipihak lain, ia menjelaskan PT PLN telah berupaya untuk mengatasi gangguan manusia terhadap tower-tower listrik interkoneksi Sumut-Aceh itu dengan mengangkat seorang pengawas yang bertugas melakukan pemantauan dari satu lokasi ke lokasi lain.
"Para pelaku memanfaatkan celah-celah saat petugas usai melakukan pengecekan terhadap tower itu dengan cara memotong empat tiang bagian bawahnya. PLN menempatkan seorang petugas untuk mengawasi lebih 70 tower. Namun kedepan, kita berharap peran serta masyarakat untuk ikut mengawasi tower-tower itu," ujar dia.
Sejumlah warga Lhok Seumawe mengaku kecewa atas putusnya aliran listrik tersebut, apalagi aksi takbertanggungjawab itu terjadi saat pertandingan sepakbola piala dunia yang disiarkan televisi. "Mau apalagi ini, kenapa tak habis-habisnya masyarakat dibuat menderita, apalagi saat ini kita butuh aliran listrik untuk menghidupkan pesawat televisi" kata Arifin, warga Lhokseumawe. (*/rit)