"Kutukan ini dilontarkan karena Zionis Israel telah melakukan perbuatan biadab yang membunuh rakyat sipil Palestina," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin usai membacakan pernyataan MUI bersama ormas Islam, di Jakarta, Senin (10/07).
Selain mengutuk, MUI dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam itu juga meminta kepaada PBB, Gerakan Non Blok, OKI dan kelompok negara berkembang G-8 untuk mengambil langkah kongkrit guna menghentikan tindakan brutal Israel terhadap warga Palestina.
"Selain itu kami menyerukan kepada Amerika dan sekutu-sekutunya untuk tidak menerapkan standar ganda dalam konflik Israel-Palestina," kata Ma'ruf.
Pemerintah Indonesia sebagai anggota PBB dan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, menurut Ma'ruf, harus berperan lebih aktif untuk mendesak kepada Dewan Keamanan PBB segera mengirimkan pasukan perdamaian guna menghentikan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel.
"Pemerintah juga harus menggalang opini dunia bahwa yang dilakukan Israel merupakan kejahatan yang harus dihentikan. Seluruh masyarakat Indonesia harus berperan aktif dalam aksi-aksi solidaritas sosial terhadap rakyat Palestina bisa dengan penggalangan dana bagi rakyat Palestina," katanya.
Menyinggung tentang Ormas-Ormas Islam yang akan mengirimkan tentara ke Palestina, Sekjen Forum Umat Islam, M. Al Khaththath menyatakan mereka hanya memberikan dukungan moril dan dukungan solidaritas.
"Yang punya tentara kan negara bukan Ormas Islam, kecuali kalau memang pemerintah memfasilitasi," katanya.
Sejak pecahnya konflik terbuka yang dipicu oleh penahanan seorang tentara Israel oleh para pejuang Palestina dua pekan terakhir, gelombang aksi demonstrasi menentang kebiadaban pasukan Zionis itu kembali terjadi di Jakarta.
Aksi demonstrasi terbesar yang melibatkan ratusan ribu aktivis dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Jabotabek, Banten dan kawasan Jawa Barat terjadi di depan gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, 2 Juli lalu. Para demonstran mengutuk AS dan Israel.
Seperti diberitakan kantor-kantor berita transnasional mengutip sejumlah pejabat keamanan Palestina melaporkan, militer Zionis itu telah menahan lebih dari 20 menteri dan anggota parlemen Palestina dalam serangan malam di Tepi Barat Sungai Yordan.
Wakil Perdana Menteri Palestina Nasser Shaher dan Menteri urusan Agama Nasser Nayef Rajoub termasuk di antara yang ditangkap 29 Juni dalam serangan Israelyang ditujukan ke sebuah bangunan di Ramalah --tempat para menteri berkumpul 28 Juni -- serta beberapa tempat di beberapa bagian kota Khalil (Hebron) di bagian selatan Tepi Barat.
Di kota Ramalah, Tepi Barat, tentara Israel menangkap Menteri Tenaga Kerja Mohammed Barghouthi dan suara tembakan belakangan terdengar di kota kecil itu, kata beberapa pejabat dan saksi.
Di tempat lain di wilayah tersebut, tentara menciduk walikota Hamas, wakilnya dan seorang anggota parlemen di kota kecil Qalqilya. Dua pejabat lain Hamas ditangkap di Tulkarem, yang berdekatan, kata beberapa pejabat Palestina.
Kaukus Parlemen untuk Kemerdekaan Rakyat Palestina (KPKP) DPR RI, pada 30 Juni siang, juga mengutuk kebrutalan Israel yang menangkap dan menculik lebih dari 20 menteri serta anggota parlemen Palestina pimpinan HAMAS. (*/lpk)