< >

Orangutan Indonesia Diperkirakan Musnah Dekade Mendatang

Kamis, 13 Juli 2006 21:07
Kapanlagi.com - Jika ancaman terhadap habitat Orangutan (Pongo pygmaeus/abelii) Indonesia yang hanya tinggal sekitar 65 ribu ekor saat ini tidak diperhatikan dan ditangani sungguh-sungguh, tidak tertutup kemungkinan primata itu akan punah dalam satu atau dua dekade mendatang.

"Selain kebakaran dan penebangan hutan, sekarang yang mengancam (satwa ini) adalah pembukaan lahan kelapa sawit di daerah yang merupakan habitat Orangutan," kata Direktur Eksekutif Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo Dr Ir Aldrianto Priadjati di sela-sela simposium "Ekologi, Perilaku dan Budaya Orangutan di Kalimantan Tengah" di Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Kamis (13/07).

Menurut Aldrianto, pembukaan lahan sawit baru itu selalu harus melalui clear cutting atau pembersihan total terhadap pepohonan yang terdapat di atas lahan yang akan dijadikan perkebunan kelapa sawit. Dia juga khawatir jika perkebunan kelapa sawit itu ternyata hanya kedok pengusaha untuk mengambil kayu hutan.

Untuk menyelamatkan primata langka itu dari kepunahan, diperlukan usaha yang gigih dari semua pihak, khususnya aparat hukum dan pemerintah daerah karena merekalah yang memiliki otoritas untuk melarang dibukanya lahan untuk perkebunan kelapa sawit yang mengancam habitat Orangutan, katanya.

Jika Orangutan benar-benar musnah di Indonesia, maka Asia pun akan rugi karena hewan ini adalah satu-satunya kera besar (great apes) yang ada di benua itu padahal masih banyak hal yang bisa diteliti dari satwa tersebut. Kera besar lainnya, yaitu gorila (Gorilla gorilla), simpanse (Pan troglodytes), dan bonobo (Pan paniscus) hanya terdapat di Afrika, katanya.

Karenanya, Aldrianto dalam pemaparannya di depan puluhan pakar dan mahasiswa itu mengajak berbagai pihak untuk lebih banyak meneliti Orangutan, khususnya yang berkaitan dengan hubungan hewan itu dengan keadaan sosial masyarakat di sekitar habitatnya.

Dalam simposium itu, dipaparkan beberapa hasil kajian sejumlah peneliti Universitas Nasional (Unas) di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, Kalimantan Tengah. Penelitian itu merupakan kerjasama antara Unas dengan Universitas Zurich yang didukung Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Selain itu, Antropolog Universitas Zurich, Prof Dr Carel van Scheik, juga memaparkan laporan risetnya berjudul Long Term and Cooperative Studies in Tuanan, serta Psikolog Universitas York Prof Anne Russon PhD menyampaikan makalahnya berjudul Foundations of Culture in Orangutans.

Simposium sehari yang berlangsung di kampus Unas itu juga diisi dengan peluncuran buku "Di antara Orangutan: Kera Merah dan Bangkitnya Kebudayaan Manusia" yang merupakan terjemahan dari buku Van Scheik "Among Orangutan: Red Apes and the Rise of Human Culture".

Dari 65 ribu ekor Orangutan yang hidup di Indonesia, 58 ribu di antaranya adalah Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan tujuh ribu ekor lainnya Orangutan Sumatera (Pongo abelii). (*/lpk)