Penggemar Turun ke Jalan, Klub-Klub Raksasa Italia Marah
Kapanlagi.com - Juventus, Lazio dan Fiorentina Jumat bereaksi sangat marah setelah mereka semua terdegradasi dari divisi utama sepakbola Italia dan otomatis tersingkir dari Liga Champions Eropa atas keterlibatan mereka dalam skandal pengaturan pertandingan sepakbola Italia.Selain itu, Juventus juga dikurangi 30 poin dari jumlah total mereka bagi musim mendatang dan dua gelar juara terakhir mereka di Serie A pada musim 2005 dan 2006 dicopot pula. Lazio dan Fiorentina dikenakan pengurangan berturut-turut tujuh dan 12 poin. AC Milan akan tetap berkiprah di Serie A tetapi akan kehilangan 15 poin dan juga akan tersingkir dari Liga Champions. Keempat klub itu akan memulai musim mendatang dengan penalti poin dan Juventus terpaksa mengawali pertandingan mereka di Serie B dengan minus 30 poin -- hampir pasti mereka akan menghabiskan setidaknya dua musim di Serie B. Milan akan memulai pertandingan mereka di Serie A musim mendtang dengan minus 15 poin. Di Serie B, Fiorentina memulainya dengan minus 12 poin dan Lazio minus tujuh poin. Klub-klub itu memiliki peluang untuk meminta banding atas keputusan itu dan keempatnya menyatakan mereka siap berjuang. Sebagian besar dari para pemain utama Juventus kemungkinan akan berusaha pindah ke klub lain baik di Italia atau di Eropa. Pelatih Juve, Fabio Capello, yang mengantar Juventus meraih dua gelar terakhir yang dicopot itu, juga berhenti sebagai pelatih klub itu pekan lalu dan bergabung dengan klub besar Spanyol, Real Madrid. Keputusan tersebut dikeluarkan tepat lima hari setelah Italia menang dalam Piala Dunia 2006 lewat di tendangan penalti melawan Perancis di Berlin. Tidak Masuk Akal Presiden Juventus Giovanni Cobolli Gigli mengatakan ia marah dengan keputusan tersebut dan klub itu akan meminta banding. "Sungguh tidak masuk akal," ujarnya, "Kami mengharapkan suatu hukuman yang lebih adil. Kami tidak mengerti mengapa kami dapat dikeluarkan dari kejuaraan utama." "Juve merupakan tim satu-satuya yang jelas-jelas menunjukkan keinginannya untuk berubah. Berada di Serie B dengan kekurangan 30 poin benar-benar tidak dapat diterima," katanya. "Kami tidak mengerti mengapa ada perlakuan hukum yang berbeda yang diterapkan pada empat kasus yang tengah dipertimbangkan," tambahnya. Saat fakta-fakta sudah ditunjukkan dengan jelas, episode yang berkaitan dengan Juventus tidak disesuaikan dengan tiga tim lain yang juga dituduh melakukan skandal pengaturan pertandingan. Luciano Moggi, mantan direktur Juventus yang usahanya untuk menetapkan wasit tertentu yang ditugaskan bagi pertandingan klubnya itu malah mengemukakan skandal itu, dikenai skors selama lima tahun. Fiorentina juga tidak kalah marahnya dengan Juve. "Ini sangat tidak adil," demikian pernyataan klub itu. Sementara Presiden Lazio Claudio Lotito, yang dikenakan suatu larangan tiga-tahun untuk tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan olahraga, mengatakan ia benar-benar tidak bisa menerima hukuman terhadap klubnya itu. "Ini merupakan hukuman yang tidak kami harapkan," ujarnya. "Lazio tidak pernah mencoba untuk melanggar kode etik persepakbolaan," tambahnya. Para Penggemar Turun ke Jalan Sementara itu Reuters juga melaporkan, para penggemar tiga klub besar Italia itu turun ke jalan Jumat setelah mendengar berita bahwa tim-tim mereka akan bermain pada Serie B pada musim mendatang. Kumpulan terbesat para penggemar yang protes itu berada di Roma, tempat kira-kira 400 suporter Lazio melepaskan kekesalan mereka di luar hotel tempat pengadilan itu bersidang untuk mengumumkan putusannya tersebut. Di Turin, Fans Juventus yang marah berkumpul di depan markasbesar klub itu dengan meneriakkan slogan-slogan menentang ketua pengadilan Cesare Ruperto dan AC Milan. Di Florence, pelatih Fiorentina Cesare Prandelli mengungkapkan kemarahannya atas putusan itu, tetapi para pendukung mereka melakukan aksi unjur rasa damai secara besar-besaran, dengan menutup jalan-jalan di pusat kota itu. Putusan pengadilan olahraga Italia itu merupakan puncak dari suatu skandal yang mulai terungkap pada awal Mei lalu dengan terpublikasinya percakapan telepon yang disadap antara mantan pemimpin umum Juventus Luciano Moggi dan para pejabat Federasi Sepakbola Italia yang membahas penunjukkan wasit selama musim 2004-2005. Ketua pengadilan itu, Ruperto, menyampaikan putusan tersebut di satu ruang konferensi yang berornamen di lantai basement hotel di Roma itu. Para penggemar Lazio mulai berkumpul di jalanan luar hotel itu beberapa jam sebelumnya. Pada mulanya mereka membatasi protes mereka dengan teriakan-teriakan anti-Juventus, namun suasana bertambah panas dan memburuk saat para pengacara terlihat keluar dari hotel itu setelah putusan pengadilan itu keluar. Pengacara yang mewakili mantan pemimpin eksekutif Juventus Antonio Giraudo, Luigi Chiappero, dikerubungi dan dihina oleh para penggemar itu ketika ia berjalan menuju mobilnya. Pengacara Lazio Gian Michele Gentile terpaksa tetap berada di dalam hotel karena khawatir atas ancaman dari kerumuman massa. "Ini suatu pengadilan yang tidak adil karena Juve bukan satu-satunya tim yang bersalah - seperti biasa - sebagian besar dari kami bertekad akan membayarnya," ujar penggemar Lazio Andrea Hotfield (33) kepada Reuters. "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya, tetapi saya pikir hari-hari terakhir ini akan menjadi saat-saat sulit di Roma," katanya. (*/erl) |