"Anti dumping yang akan dikenakan UE kepada Cina dan Vietnam akan divonis sekitar November tahun ini, sehingga keputusan itu mendorong Indonesia untuk meningkatkan ekspornya," katanya di Jakarta, Rabu.
Dalam sambutannya yang dibacakan Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka, Depperin, Ansari Bukhari ketika membuka pameran Industri Leater & Footwear itu, kata Fahmi, Cina mengekspor sepatu ke Eropa sebanyak 210 juta pasang dari total produksi yang dimilikinya sebanyak 250 juta pasang pada Juni ini dan diperkirakan saat ini sudah memproduksi sebesar 500 juta pasang sepatu, sedangkan Vietnam memproduksi sebanyak 150 juta pasang sepatu yang juga diekspor ke Uni Eropa.
Dikatakan, jika anti dumping maupun kuota untuk Cina dan Vietnam sudah diputuskan pada tahun ini, maka pengenaan akan berlaku selama lima tahun, namun apabila tidak terjadi, maka peluang pasar Indonesia hanya berkisar dua tahun.
Menurut dia, di Indonesia saat ini terdapat sekitar 100 perusahaan kulit sepatu yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan yang menyerap tenaga kerja sebanyak 6.000 orang lebih.
Karena itu pemerintah akan terus berupaya meningkatkan produk sepatu itu dengan memberikan dukungan kepada perusahaan baik mengenai teknologi maupun sumber daya manusia (SDM) agar mereka dapat bersaing di pasar global.
Apabila semua itu dapat dilakukan dengan baik, maka produk tersebut mempunyai nilai yang tinggi, tuturnya. Dengan upaya itu, lanjutnya maka pendapatan devisa negara dari sektor produk sepatu, akan semakin besar, apalagi peluang pasar ekspor sepatu dalam negeri saat ini juga cukup besar.
"Kami optimis kesempatan yang ada ini tidak dibuang begitu saja dan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga pendapatan negara dari ekspor sepatu makin meningkat, " katanya.
Fahmi mengatakan, ekspor sepatu Indonesia ke Eropa makin besar dan ini harus dimanfaatkan sebesar-besar, karena hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama.
Ekspor sepatu meningkat.
Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo, Eddy Wijanarko mengatakan, ekspor sepatu Indonesia pada tahun 2006 diharapkan meningkat menjadi 1,7 miliar dolar AS dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 1,5 miliar dolar AS dan tahun sebelumnya sekitar 1,3 miliar.
Ekspor sepatu Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat yang menunjukkan permintaan dari buyer makin tinggi dan kondisi ini harus dijaga agar pasar tetap positip bagi Indonesia, katanya.
Ditanya mengenai rencana Cina, menurut dia, Cina ingin melakukan investasi di Indonesia mengenai sepatu sampai saat ini masih belum terealisir.
"Kabar itu sejak lama, namn kami juga khawatir rencana investasi itu hanya merupakan pelarian sementara saja bagi produk sepatu Cina," katanya.
Apabila produk sepatu Cina diekspor ke Eropa yang diproduksi di Indonesia, maka dikhawatirkan Eropa juga akan mengenakan anti dumping kepada Indonesia, karena itu pemerintah akan segera mengambil kebijakan untuk mengatasi hal tersebut, katanya.
Mengenai transhipment, ia mengatakan merupakan salah satu bentuk penyelundupan yang meresahkan dan merugikan dunia usaha di Indonesia.
Pada kegiatan transhipment barang yang diproduksi di Cina menggunakan dokumen ekspor dari Indonesia terutama ke negara-negara tujuan ekspor yang membatasi masuknya produk Cina, seperti Amerika Serikat (tekstil) dan Uni Eropa (sepatu).
Ia mengatakan, pemerintah perlu segera mengatasi masalah ini dengan cepat. " Penyelundupan produk sepatu Cina tidak hanya merugikan pendapatan negara dari pajak, tapi juga turunnya utilisasi industri di dalam negeri, maraknya pemutusan hubungan kerja, dan turunnya daya saing serta produktifitas," kata Eddy. katanya. (*/rit)