Direktur Transmisi dan Distribusi PLN Herman Darnel Ibrahim sebelum acara perkenalan pengurus Komite Nasional Indonesia (KNI) International Council on Large Electric Systems (Cigre) di Jakarta, Rabu mengatakan, selama semester pertama 2006 ini, konsumsi BBM pembangkit sudah melebihi kuota yang tetapkan.
"Selama semester pertama ini, konsumsi BBM sudah mencapai 4,9 juta kiloliter atau berlebih 6-7% dari kuota 4,6 juta kiloliter," katanya.
Sedang, sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PLN, kuota BBM selama 2006 ditargetkan hanya 9,2 juta kiloliter.
Peningkatan konsumsi BBM tersebut dikarenakan banyaknya industri yang sebelumnya memakai genset berbahan bakar BBM beralih ke PLN.
Apalagi, lanjut Herman yang terpilih sebagai ketua pertama KNI Cigre periode 2006-2008, harga BBM sekarang ini sudah jauh melampaui harga BBM yang ditetapkan sebelumnya.
Sesuai RKAP, harga BBM hanya ditetapkan sekitar Rp5.000 per liter, sementara sekarang ini sudah Rp6.300 per liter.
"Jadi, kalau kecenderungan konsumsi dan harga BBM tetap seperti sekarang ini, maka pemadaman bergilir tidak bisa dihindari," ujarnya.
Menurut dia, saat ini, arus kas perusahaan sudah terganggu akibat tingginya pemakaian dan harga BBM tersebut.
Namun, lanjut Herman, pemadaman bergilir bisa dihindari kalau pemerintah menambah nilai subsidi listrik.
Sesuai APBN 2006 maka subsidi listrik telah ditetapkan Rp17 triliun, namun jumlah tersebut tidak menutupi peningkatan kebutuhan biaya BBM.
Dalam raker Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Komisi VII DPR telah disepakati tambahan subsidi hingga Rp32,212 triliun.
Kesepakatan tersebut akan dibawa dalam rapat paripurna DPR guna disahkan dan masuk ke dalam RAPBN 2006.
Upaya lain agar tidak terjadi pemadaman, menurut Herman, adalah besaran subsidi disesuaikan dengan pemakaian BBM. "Berapapun BBM terpakai maka dapat subsidi. Kalau lebih, dibayar lebih, kalau kurang, dibayar kurang," ujarnya.
Selain itu, menurut Herman, pemadaman juga bisa dihindari kalau masyarakat melakukan penghematan minimal 10% sampai akhir tahun ini dan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) jalur selatan telah beroperasi.
"Kita harapkan SUTET selatan beroperasi sebelum 17 Agustus 2006," katanya. (*/rit)