Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Desra Percaya di Gedung Deplu, Rabu (02/08).
"Akan tiba besok siang sekitar pukul 12.00 WIB dengan menggunakan Etihad Airways EY 423. Informasi terakhir akan tiba di terminal tiga," katanya.
Menurut Jubir, jenazah Siti Maemunah baru diterbangkan dari Damaskus, Suriah Rabu siang.
"Rencananya akan diterima oleh Menakertrans untuk kemudian langsung dibawa ke kampung halamannya Sukabumi dan diserahkan kepada keluarganya. Kalau dari Damaskus didampingi oleh satu staf dari Deplu dan Depnaker," ujarnya.
Untuk mempercepat pemulangan jenazah Siti Maemunah itu pekan lalu Pemerintah Indonesia telah mengirimkan satu tim yang terdiri atas pihak Deplu dan Depnakertrans ke Lebanon.
Tim tersebut mengemban tiga tugas yaitu mempercepat pemulangan jenazah Maemunah, evakuasi para WNI di Lebanon dan pemetaan kondisi terakhir di lapangan.
Upaya pemulangan jenazah Siti Maemunah yang merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Sukabumi, Jawa Barat, yang bekerja pada sebuah keluarga berkebangsaan Kuwait dan tengah ikut majikannya berlibur di Lebanon itu, menurut Desra, memang tidak mudah karena jenazah itu berada di kota yang diblokade Israel.
Jenazah Siti Maemunah ditemukan pada Rabu pekan lalu di sebuah rumah sakit di Kota Tire, Lebanon selatan yang merupakan basis dari grilyawan Hezbollah sehingga situasi keamanan di kota tersebut belum kondusif karena masih menjadi target serang militer Israel.
Berita kematian Siti Maemunah --yang lahir pada 1982-- itu didapat dari seorang warga negara Kuwait yang mempekerjakan Siti sejak Januari 2006.
Warga negara Kuwait yang berinisial HAAN itu, ujar Desra, pada Minggu, 23 Juli 2006 mendatangani KBRI di Kuwait dan menyampaikan bahwa sembilan anggota keluarganya beserta satu orang Pembantu Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia telah menjadi korban serangan Israel ke Lebanon pada 13 Juli 2006.
Musibah itu dialami mereka ketika sedang berlibur ke Lebanon di wilayah Ba Seleh Qodo Sur.
Saat ini, staf KBRI yang masih bertahan di Lebanon terdiri atas satu diplomat dan dua staf lokal. Sementara, beberapa staf lainnya termasuk Duta Besar Abdullah Syarwani beserta puluhan WNI yang berdomisili di Lebanon telah dievakuasi ke Suriah akibat situasi keamanan yang semakin tidak kondusif di Lebanon.
Menurut jubir Deplu, KBRI di Beirut telah melakukan berbagai upaya, baik melalui televisi, suratkabar, dan radio, untuk mengontak para WNI lainnya di Lebanon agar menghubungi KBRI jika ingin dievakuasi keluar dari wilayah Lebanon. (*/lpk)