< >

Lebih Dari Lima Juta Balita Derita Gizi Buruk

Kamis, 03 Agustus 2006 14:02
Kapanlagi.com - Lebih dari lima juta balita di Indonesia menderita gizi buruk karena kehilangan kesempatan memperoleh Air Susu Ibu (ASI) ekslusif yang seharusnya diperoleh minimal hingga balita berusia usia enam bulan.

Berdasarkan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, tercatat pemberian ASI eksklusif di Indonesia hingga umur lima bulan hanya 14%, hingga tiga bulan 46% dan 64% hingga usia 2 bulan.

"Padahal, pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan itu mampu mencegah 13% atau 137 ribu dari 10,6 juta kematian balita yang ada di Indonesia tiap tahunnya," ujar Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, saat peringatan Pekan ASI Sedunia 2006 yang juga dihadiri Menneg Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Sumarjati Arjoso serta Ketua Tim Penggerak PKK Pusat, Ny Susyati Maaruf di Jakarta, Kamis .

Rendahnya pemberian ASI ekslusif, kata Siti Fadillah, disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI bagi bayi dan ibu. Selain itu, terdapat juga faktor kurangnya kepedulian dan dukungan suami, keluarga dan masyarakat untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk menyusui secara eksklusif.

ASI sendiri telah terbukti memiliki keunggulan yang tak dapat digantikan oleh susu manapun, karena mengandung zat gizi yang selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. "ASI adalah imunnitas terhadap berbagai penyakit, sehingga anak tidak mudah terserang penyakit diare, radang paru-paru atau bahkan kurang gizi."

Sementara itu, Meneg PP Meutia Hatta Swasono mengakui kurangnya sosialisasi kepada para ibu hingga ke pelosok-pelosok soal pentingnya pemberian ASI eksklusif. Padahal, kata dia, pemerintah menargetkan sedikitnya 80% ibu di Indonesia memberikan ASI eksklusif kepada bayi hingga usia 6 bulan.

Di tengah krisis pemberian ASI tersebut, iklan produk makanan pendamping (MP) ASI berjalan terus. Bahkan, kata Meutia, ada beberapa produk susu formula bayi yang mengiklankan produknya sebagai yang terbaik, sama baiknya dengan susu ibu.

Dalam kode etik internasional yang menjadi tema sentral pekan ASI Sedunia tahun ini melarang iklan yang mengidealkan pemberian susu formula sebagai pengganti ASI serta segala bentuk iklan yang mempromosikan botol dan dot untuk bayi, katanya.

Sementara itu, Kepala BKKBN Pusat Sumarjati Arjoso mengatakan, melalui pekan ASI kali ini, diharapkan adanya upaya yang kongkrit yakni meningkatnya pemberian ASI kepada bayi dan balita, meningkatkan kesadaran semua pihak tentang pemenuhan hak anak untuk mendapatkan ASI, menguatnya peran serta masyarakat, pemerintah dan lembaga kemasyarakatan lainnya untuk mendukung upaya peningkatan pemberian ASI eksklusif enam bulan, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran suami, keluarga serta masyarakat dan menghindari serangan pemasaran produk makanan bayi secara agresif.

Lebih lanjut Sit Menkes Siti Fadillah Supari mengatakan, Departemen Kesehatan sendiri sebenarnya telah mengeluarkan surat keputusan menteri No 237/menkes/SK/IV/1997) mengenai pemasaran produk pengganti ASI, sesuai dengan kode etik internasional yang berlaku.

"Namun sampai saat ini, SK tersebut kurang ditaati, bahkan pemasaran susu bayi justru makin gencar,? katanya.

Untuk itu, dalam waktu dekat akan segera disiapkan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai pemasaran susu bayi, dengan harapan akan memperkuat dasar hukum melindungi para ibu dan bayi dari bahaya susu bayi.

"Bayangkan kalau semakin banyak keluarga yang terpengaruh iklan lantas memberikan susu formula pada bayinya, generasi Indonesia bisa jadi generasi yang kurang cerdas dan sehat," tambahnya. (*/rit)