"Sampai kemarin kita masih mengirimkannya ke Hongkong tetapi mulai hari ini tidak lagi," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di Jakarta, Kamis (03/08).
Menurut dia selanjutnya pemeriksaan Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) spesimen pasien flu burung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Naval Medical Research Unit (NAMRU) 2 yang berhubungan langsung dengan laboratorium kolaborasi WHO, Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Atlanta.
Menurut dia kebijakan itu diambil karena kemampuan laboratorium dalam negeri sudah dalam mendeteksi virus H5N1.
Lagi pula, kata dia, selama ini hasil pemeriksaan laboratorium nasional hampir selalu sama dengan hasil pemeriksaan laboratorium kolaborasi WHO.
Ia menambahkan pula bahwa kebijakan itu juga ditetapkan agar selanjutnya semua ilmuwan di dunia bisa mengakses data genom pasien flu burung di Indonesia agar penyakit itu bisa diteliti lebih lanjut dan segera ditemukan metode penanganannya. (*/lpk)