Sebab, kata Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Wilayah IV Makassar, Hendar Gunawan pada Ekspose Penanganan Penanggulangan Bencana Alam (PPBA) Sulsel di Makassar, Kamis, kondisi geografi provinsi berpenduduk sekitar 7,4 juta jiwa ini umumnya adalah daerah pesisir pantai dengan wilayah pengunungan di bagian tengah.
Sedangkan di bagian timur dan barat adalah dataran dan merupakan pesisir yang memungkinkan terjadi bencana tsunami maupun gempa bumi, serta aktivitas-aktivitas tektonik yang ditandai 'sismisitas' rendah di bagian selatan serta tengah dengan kerawanan tingkat menengah.
Di depan peserta ekspose yang antara lain dihadiri Gubernur Sulsel HM. Amin Syam, Wakapolda Sulsel, Brigjen Pol. H. Andi Masmiat dan Ketua DPRD Sulsel Agus Arifin Nu`mang itu, Hendar menambahkan, di wilayah bagian utara memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi termasuk adanya wilayah pengununan bagian tengah yang memungkinkan terjadinya angin kencang dan kekurangan air.
"Wilayah timur cukup hujan namun angin kencang (barubu) yang sering terjadi dalam perubahan musim merusak daerah ini," ujarnya.
Sedangkan terkait aktivitas tektonik, di bagian timur Sulsel terdapat patahan yang memanjang dari Palu (Sulteng) masuk ke teluk Bone (Sulsel). Aktivitasnya cukup dirasakan yakni ada getaran (gempa) yang tidak terlalu besar di Kabupaten Takalar dan merupakan `kesumbuan` dari wilayah sebelah timur kabupaten Selayar dengan episenter magnitude atau getaran 3,6 pada skala richter.
Sementara di wilayah barat Sulsel dengan zona-zonanya terjadi pemekaran serta penyusupan yang nantinya memproduksi beberapa episenter gempa bumi yang menyebabkan daerah-daerah Sulsel di bagian barat rawan tsunami meski pun tingkat kerawanannya sudah bisa diinformasikan.
Menurut Hendar, beberapa analisis mengenai wilayah provinsi ini mencatat, pada bagian utara pantai Majene (Sulbar) kemudian turun ke Mamuju, cukup rawan terjadi tsunami tetapi untuk wilayah pesisir barat dari Mamuju ke pantai selatan tidak rawan musibah tersebut.
"Aktivitas tsunami tidak mencapai tingkat kerawanan yang tinggi namun harus diwaspadai karena wilayah selatan 55 persen dari 7,4 juta penduduk daerah ini bermukim di daerah pantai, sebanyak 43% bermukim di pengunungan dan selebihnya di pulau-pulau.
Gubernur Sulsel HM. Amin Syam mengakui bahwa letak geografis dan kondisi geologis tersebut menyebabkan provinsi Sulsel menjadi salah satu daerah yang rawan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, badai, tanah longsor serta kebakaran hutan.
Karena itu, ia minta konsep prosedur tetap (Portap) penanggulangan bencana alam terus diperbaiki dan disempurnakan dengan prinsip penyelamatan jiwa manusia atau mencegah jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak bila terjadi musibah.
Salah satu upaya yang akan dilakukan yakni menyelenggarakan simulasi penanggulangan tsunami sekaligus sebagai wadah sosialisasi kesiapan masyarakat menghadapi musibah alam tersebut.
Sebab, kata Amin Syam, dari pengalaman penanganan bencana alam di Sulsel yang terjadi selama ini terkesan bahwa masyarakat masih kurang paham akan bencana itu, termasuk Satkorlak mau pun Satlak PBA belum optimal dalam melakukan pencegahan, penanganan maupun rehabilitasi/ rekontruksi pasca bencana tersebut. (*/lpk)