"Saya bersyukur, jenazah sudah sampai dengan selamat. Ini adalah bentuk kekejaman Israel yang bisa disaksikan warga Indonesia," kata Erman, yang didampingi sejumlah pejabat Depnakertrans dan instansi terkait , di Jakarta, Kamis.
Selain Erman, jenazah Maemunah juga dijemput seorang kakaknya, Deni, Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Desra Percaya dan beberapa wakil organisasi ketenagakerjaan Indonesia.
Deni mengaku lega dengan kepulangan jenazah adiknya.
"Kami sekeluarga telah ikhlas dengan meninggalnya Maemunah," kata Deni dengan mata berkaca-kaca.
Jenazah Maemunah kemudian langsung diberangkatkan ke kampung halamannya di Sukabumi pada pukul 13.55 menggunakan ambulans yang disiapkan Lembaga Bantuan Hukum Tenaga Kerja Indonesia (LBH TKI).
Teman-teman Maemunah sesama TKI yang datang menjemput membentangkan spanduk bertuliskan "Pahlawan Devisa".
Siti Maemunah adalah TKI yang ditemukan meninggal pada Rabu pekan lalu di sebuah rumah sakit di Kota Tyre, Lebanon selatan yang merupakan basis gerilyawan Hezbollah . Situasi keamanan di kota tersebut belum aman karena masih menjadi target serangan militer Israel.
Berita kematian Siti Maemunah --yang lahir pada 1982-- itu didapat dari seorang warga negara Kuwait yang mempekerjakan Siti sejak Januari 2006.
Warga negara Kuwait yang berinisial HAAN itu, ujar Desra, pada Minggu, 23 Juli 2006 mendatangi KBRI di Kuwait dan menyampaikan bahwa sembilan anggota keluarganya beserta satu orang Pembantu Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia telah menjadi korban serangan Israel ke Lebanon pada 13 Juli 2006.
Musibah itu dialami mereka ketika sedang berlibur ke Lebanon di wilayah Ba Seleh Qodo Sur.
Saat ini, staf KBRI yang masih bertahan di Lebanon terdiri atas satu diplomat dan dua staf lokal. Sementara, beberapa staf lainnya termasuk Duta Besar Abdullah Syarwani beserta puluhan WNI yang berdomisili di Lebanon telah dievakuasi ke Suriah akibat situasi keamanan yang semakin tidak baik di Lebanon.
Menurut jubir Deplu, KBRI di Beirut telah melakukan berbagai upaya, baik melalui televisi, surat kabar, dan radio, untuk mengontak para WNI lainnya di Lebanon agar menghubungi KBRI jika ingin dievakuasi keluar dari wilayah Lebanon. (*/lpk)