< >

BI Harus Pantau Penurunan Suku Bunga di Bank

Jum'at, 11 Agustus 2006 07:30
Kapanlagi.com - Kalangan pelaku usaha di sektor agribisnis peternakan meminta Bank Indonesia (BI) untuk memantau tingkat suku bunga yang berlaku di lapangan menyusul penurunan BI rate dari 12,25% menjadi 11,75%.

Yudi Guntara, dari Asosiasi Penggemukan Ternak Indonesia di Jakarta, Kamis menyatakan, penurunan suku bunga Bank Indonesia tersebut tidak serta merta berlaku di perbankan namun biasanya setelah tiga bulan sejak diumumkan.

"Kebijakan BI untuk menurunkan BI rate sudah cukup bagus namun yang lebih penting bagi dunia usaha adalah current rate bukan BI rate," katanya disela dialog terbuka "Kebijakan Pemasukan Daging dari Luar" antara Menteri Pertanian dengan stakeholder sektor peternakan .

Oleh karena itu, menurut dia, BI seharusnya melakukan pemantauan di lapangan apakah perbankan telah memberlakukan suku bunga sebagaimana yang ditetapkan saat ini.

Dia mengakui, dengan tingkat BI rate sebesar 11,75% saat ini sudah cukup membantu sektor riil untuk bergerak, namun demikian jika lebih kecil akan lebih menarik investor menanamkan modalnya guna mengembangkan usaha di Indonesia.

Menurut dia, meskipun suka bunga telah diturunkan dan akses perbankan lebih mudah namun masih adanya ketidakpastian kebijakan pemerintah dalam mendorong sektor riil turut menjadi kendala tumbuhnya sektor riil di dalam negeri.

Sementara itu Teguh Budiyono dari Asosiasi Feedloter Indonesia (Apfindo) menyatakan, penurunan BI rate saat ini masih terlalu kecil untuk mampu menggerakkan sektor riil termasuk usaha agribisnis peternakan.

"Margin keuntungan usaha peternakan sangat kecil jadi penurunan suku bunga sebesar 1% masih terlalu kecil," katanya.

Pada kesempatan itu dia menyayangkan, kebijakan perbankan yang masih mempersulit usaha sektor agribisnis termasuk peternakan untuk mengakses kredit usaha dari bank.

"Agribisnis peternakan masih dianggap oleh bank memiliki resiko usaha yang tinggi," katanya.

Sedangkan Ketua Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia, Betsy Monoarfa menyatakan, kredit untuk usaha agribisnis seharusnya antara 5-6% atau hanya satu digit.

"BI rate yang diberlakukan saat ini belum kompetitif bagi sektor riil," katanya. (*/lpk)


BERITA TERKAIT