< >

Gelombang EM Bisa Perkirakan Gempa 30 Hari Sebelumnya

Sabtu, 12 Agustus 2006 09:03
Kapanlagi.com - Fenomena alam berupa gempa bumi bisa diperkirakan dalam 30 hari sebelumnya dengan menggunakan peralatan sensor magnetik untuk mengukur medan Elektromagnetik (EM) frekuensi rendah hingga 2 Herzt.

"Secara umum gelombang EM frekuensi rendah memunculkan anomali sekitar 30 hari sebelum terjadi gempa," kata pakar geofisika dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bandung, Dr Djedi S Widarto yang dihubungi dari Jakarta, Sabtu.

Sedangkan jika menggunakan gelombang EM frekuensi tinggi melalui satelit yang mencapai ribuan mega Herzt (MH), anomali muncul sekitar lima hari menjelang gempa, tambahnya.

Dr Djedi adalah salah seorang pemenang penghargaan Peneliti Terbaik Riset Unggulan Terpadu (RUT) untuk bidang kelautan, kebumian dan dirgantara 2006 yang diserahkan oleh Wapres Jusuf Kalla di Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-11 pada 10 Agustus 2006 di Istana Wapres.

Pada lima hari sebelum gempa besar di Aceh 26 Desember 2004, yakni 21 Desember 2004, terjadi penurunan jumlah total elektron di ionosfer (325-350km di atas permukaan bumi) di wilayah Sumatera yang signifikan.

Anomali itu juga terekam di Taiwan yang radiusnya 500-600km dari episentrum gempa yang menunjukkan bahwa terdapat perubahan aktivitas medan EM akibat suatu pergerakan lempeng di kerak bumi.

"Karena melalui GPS (Global Positioning System) via satelit, gelombang EM bisa memantau hingga jarak 20.200km," ujarnya.

Begitu pula dengan gempa Liwa, yang melanda Lampung pada 1997, yaitu pada 4-8 hari sebelumnya terjadi anomali fluktuasi medan listrik dan medan magnetik di alat sensor yang dipasang di Liwa.

"Demikian juga anomali pada dua jam sebelum gempa Bengkulu pada Juni 2000, meski masih harus diteliti apakah ada kaitannya dengan pergerakan lempeng bumi atau sekedar badai magnetik akibat aktivitas matahari yang bersifat rutin," katanya.

Yang menjadi masalah, urainya, peralatan yang dimilikinya masih manual, tidak bersifat "real time", sehingga tidak langsung terpantau di layar yang online dan bisa langsung diumumkan.

Alat sensor elektrik masih bisa dibuat di dalam negeri sehingga murah, tetapi sensor magnetik masih relatif mahal mencapai 4.500 dolar AS dan harus diimpor.

LIPI, ujarnya, hanya memiliki dua alat, di Liwa dan Bandung.

Ia berharap, pemerintah bisa mengupayakan dana bagi pengadaan peralatan sensor medan EM yang "real time" untuk dipasang di berbagai tempat di Indonesia yang memang potensial gempa.

"Jika peralatannya banyak dan tersebar di mana-mana kemungkinan daya pantaunya juga semakin besar, selama ini karena alatnya terbatas daya pantaunya juga menunjukkan probabilitas yang kecil," kata Djedi. (*/rit)