< >

Seismolog Belum Percaya EM Bisa Ramal Gempa

Sabtu, 12 Agustus 2006 11:15
Kapanlagi.com - Riset mengenai gelombang Elektromagnetik (EM) untuk meramal datangnya gempa masih relatif baru dan belum dipercaya serta terus dihujat oleh para ahli gempa (seismolog).

"Dikatakan perkiraan terjadinya gempa diharuskan melalui scientific prediction, tetapi cara ini dinilai hanya menggunakan practical prediction. Namun ilmuwan itu kan harus mencari hubungan sebab akibat," kata pakar geofisika dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Bandung, Dr Djedi S Widarto yang dihubungi dari Jakarta, Sabtu.

Kenyataan, lanjut dia, peralatan sensor elektrik dan magnetik yang terpasang menunjukkan adanya anomali fluktuasi gelombang EM beberapa hari sebelum terjadi gempa.

Menurut dia, sebelum energi terlepas pada saat "main shock" patahan yang disebut sebagai gempa, ada aktivitas gesekan lempeng bumi lebih dulu yang menyebabkan selain gelombang mekanik, juga gelombang EM.

Mekanismenya, ketika terjadi gesekan, lempeng menekan pelan-pelan permukaan air tanah sehingga mengalami perubahan tinggi dan menghasilkan efek elektrokinetik yang kemudian menghasilkan potensial geolistrik (medan listrik) dan jika potensi itu besar maka terekam sensor.

Namun ia mengakui, tidak semua gempa ditandai dengan adanya anomali fluktuasi gelombang EM, misalnya dari alat yang ia tanam di Liwa, Lampung sejak 1997 hingga 2002. Dari sekitar 60 gempa Indonesia di atas 5SR hanya terpantau 10 persen.

"Itulah mengapa kami yang mempercayai kemungkinan anomali gelombang EM itu masih belum berani mengungkapkannya secara saintifik," katanya.

Meski begitu, ia menambahkan, dari pantauan gelombang EM selama empat tahun di Taiwan, secara statistik 60 persen muncul anomali itu, namun syaratnya alat pemantaunya ada di tiap sudut pulau Formosa itu.

Bahkan di Yunani yang juga berpotensi gempa, dalam kurun 10 tahun dari 1985 hingga 1994, statistik anomali itu mencapai 63 persen dari gempa yang terjadi, ujarnya.

Prof Varotsos dan kawan-kawan dari Yunani bahkan sudah memiliki metode yang dinamakan metode VAN untuk memantau dan memprediksi tektonik aktif melalui gelombang EM dalam hitungan hari sejak 1980an.

"Karena minim peralatan dan dana saya putus asa dan sempat menghentikan pemasangan sensor di Liwa yang telah dimulai pada 1997 sampai 2003, tetapi kini bersama ilmuwan Jepang mereka mengajak kami kembali serius menekuni riset ini sejak Maret 2006," katanya. (*/rit)