Sutiyoso: 220 KK Tinggal di Kawasan Kumuh
Kapanlagi.com - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengatakan, kawasan pemukiman kumuh di Jakarta mencapai luas 3.192 hektare yang dihuni oleh sekitar 1.018.000 jiwa penduduk atau 220 ribu kepala keluarga (KK)."Para penghuni itu termasuk mereka yang tinggal di bantaran kali, kolong jalan tol atau di pinggir rel kereta api," katanya di Poliklinik Yayasan Budha Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta, Sabtu, ketika memberikan paparan di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla, usai peninjauan kawasan perumahan dan potensi rumah susun di DKI Jakarta dari udara. Sebelumnya, selama sekitar 40 menit, Wapres Jusuf Kalla yang didampingi Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Menteri Perumahan Yusuf Asy`ari, Menteri PU Djoko Kirmanto, dan Kepala Bappenas Paskah Suzetta melakukan peninjauan dari udara dengan menggunakan helikopter kepresidenan, berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusumah sekitar pukul 10.30 WIB. Dari udara, Wapres antara lain meninjau daerah pemukiman dan potensi rumah susun di kawasan Kelapa Gading, Rawa Bebek, Marunda, Pademangan, Kemayoran, Manggarai, Berlan, serta meninjau jalur lintasan Bus Way, jalur lintasan Mono Rail, dan jalur lintasan Sub Way. Gubernur Sutiyoso mengatakan, pembangunan rumah susun di DKI Jakarta akan diprioritaskan di Kawasan Manggarai dan Berlan. Di Manggarai dan Berlan akan dibangun rumah susun yang dapat menampung sekitar 15.360 unit rumah (tipe 21 dan 36) di atas lahan seluas 26,10 hektare (Manggarai seluas 6,70 hektar dan Berlan seluas 19,40 hektar). Menurut Gubernur, dana yang dianggarkan untuk pembangunan rumah susun itu mencapai Rp1,85 trliun dengan rincian Rp0,65 triliun untuk Manggarai dan Rp1,20 triliun untuk Berlan. Sementara itu, Menteri Negara Perumahan Rakyat M Yusuf Asy`ari mengatakan, pemerintah menargetkan pembangunan satu juta unit rumah dalam tiga tahun mendatang yang terdiri atas 60 persen rumah susun dan 40 persen "landed house". Khusus untuk rumah susun, akan dibangun 1.000 tower rumah susun yang setiap towernya berisi sekitar 600 unit rumah. Masing-masing tower setinggi 20 lantai dengan 4 lift dan 4 tangga darurat. Dana sebanyak Rp10,25 triliun telah disiapkan untuk pembangunan rumah susun tersebut, antara lain bersumber dari Bapertarum, Sarana Multi Griya Finance, Jamsostek, dan Asabri. Menpera menambahkan bahwa saat ini masih ada sekitar 54 ribu hektare kawasan pemukiman kumuh di seluruh Indonesia. Pemerintah, katanya, akan memprioritaskan pembangunan rumah susun di lima provinsi yaitu Mebidang (Medan, Binjai, Deli Serdang) di Sumut, Barelang (Batam, Rempang dan Galang) di Riau, Jabodetabek, Gerbang Kertosusilo (Gresik, Bangkalan, Kertosono, Surabaya dan Sidoarjo) di Jatim, dan Mamaminasata (Makassar, Maros, Sunggu Minasa, dan Takalar) di Sulsel. "Di kawasan tersebut, pemukiman kumuh masih sangat banyak. Khusus untuk DKI Jakarta, pembangunan rumah susun diprioritaskan di Manggarai dan Berlan. Untuk tempat lainnya masih perlu kesepakatan lebih lanjut," katanya. Harga per unit rumah susun itu diperkirakan mencapai Rp66 juta, belum termasuk infrastruktur, fasilitas parkir, dan fasilitas umum/sosial. (*/rit) |