"Kita sedang mempersiapkan untuk itu dan Indonesia diharapkan dapat mengirim pasukannya dalam satu sampai dua minggu ini," kata Menlu di sela-sela upacara peringatan HUT ke 61 Proklamasi Kemerdekaan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis.
Menurut dia, pasukan dari Indonesia dan 10.000 anggota pasukan dari berbagai negara akan bergabung dengan 5000 penjaga perdamaian yang sudah ada di Lebanon.
Namun kepastian pengiriman pasukan, katanya, masih harus menunggu rapat yang dilakukan oleh Departemen Operasional Penjaga Perdamaian PBB, hari Kamis ini.
Selain itu, pemerintah Indonesia terus berkumunikasi dengan PBB untuk membahas pengiriman pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia.
Pengiriman pasukan pemelihara perdamaian ke Lebanon merupakan bagian dari kekuatan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) yang telah ada sejak 1978 dan berdasar resolusi PBB, dibutuhkan hingga 15.000 personel UNIFIL.
Indonesia semula menyiagakan 850 personil dari berbagai satuan TNI namun atas permintaan Perdana Menteri Lebanon, Fouad Siniora, maka jumlah personilnya ditambah menjadi 1000 orang .
Tambahan personel itu berasal dari satuan Zeni, mengingat banyak reruntuhan bangunan yang harus dipindahkan.
Selain itu, pasukan asal Indonesia dilengkapi dengan berbagai peralatan diantaranya empat unit Panser Komando (V-150 CO), empat unit Panser Angkut Personel (V-150 AP), 12 unit Panser Intai (V-150 Tai), 14 unit Panser Serbu (VAB) dan 12 unit Panser Serbu (Panhard).
Selain itu, satu unit Jeep Kia, satu unit tangki air, dua unit Taft GT (Jeep), 10 unit truk , dua unit Kendaraan Pemeliharaan (Ranhar), satu unit alat berat Back Loader, satu unit forklift (AT), sepuluh unit Truck Liaz, satu unit Kendaraan Bengkel (Ranbeng), dua unit Ambulans, tiga unit Jeep Kia dan satu unit Tangki BBM. (*/lpk)