Informasi yang didapat dari Muara Teweh, Jumat menyebutkan, sejumlah proyek yang terganggu pelaksanaan pekerjaanya terutama pembangunan dan peningkatan sarana jalan darat di daerah ini seperti ruas jalan negara Muara Teweh-Puruk Cahu, dan jalan Kandui-Muara Teweh.
Selain itu sejumlah ruas jalan di dalam kota Muara Teweh dan jalan negara Muara Teweh-Banjarmasin simpang kilometer 34-Datan-Simpang Benangin.
"Dalam beberapa pekan terakhir kegiatan proyek yang kami kerjakan terganggu karena terbatasnya solar dijual di pasaran," kata salah seorang kontraktor.
Selain sulitnya mendapat solar di sejumlah tempat juga tingginya harga ditingkat eceran yang mencapai Rp5.800/liter sampai Rp6.500/liter sementara harga di SPBU hanya Rp4.500/liter.
Sementara Kabid Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum Barut Shalahudin ST, MT mengakui sejumlah proyek terganggu pekerjaannya karena kontraktor di daerah ini mengalami kesulitan mendapat solar.
Sejumlah proyek itu ada yang terhenti untuk sementara kegiatannya karena sambil menunggu pasokan solar dari luar daerah terutama kontraktor yang membutuhkan BBM skala besar.
Dia mencontohkan kontraktor PT Liman Bangun Perkasa yang mengerjakan hampir semua proyek jalan di daerah ini setiap harinya membutuhkan solar 10.000 liter, sementara untuk membeli di daerah ini jumlahnya terbatas.
Untuk itu harus mendatangkan dari Banjarmasin sedangkan pasokan dari luar daerah tersebut juga mengalami kendala sehingga mereka tidak bisa melanjutkan pekerjaan.
Sedangkan perusahaan lainnya seperti kontraktor PT Prestasi yang mengerjakan proyek jembatan Datan pada ruas jalan kilometer 34 - Datan terpaksa mendatangkan solar dari Palangka Raya.
"Kita masih memberikan toleransi kepada sejumlah kontraktor itu, namun kami minta untuk mendapatkan solar jangan hanya terpaku pada satu tempat saja, karena kontrak proyek itu tetap berjalan sehingga jangan sampai melewati batas waktu," katanya. (*/erl)