Kepala cabang PT (Persero) Angkasa Pura II, Bandara Supadio Pontianak, Syamsul Bachri, di Pontianak, Kamis, mengatakan jarak pandang pada pagi hari sekitar 400 meter. Sementara jarak pandang minimal agar kedua pesawat bisa mendarat 800 meter.
"Dengan jarak pandang minimal 800 meter, kalau di bawah itu dapat membahayakan keselamatan penerbangan," ujarnya.
Penerbangan pagi dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta ke Bandara Supadio Pontinak dilayani tiga maskapai penerbangan, yakni Adam Air, Batavia Air, dan Sriwijaya Air.
Jadwal keberangkatan 06.00 WIB tiba 07.20 WIB. Pesawat Batavia Air sempat memutar satu kali di atas Kota Pontianak, namun karena jarak pandang tak memungkinkan, diputuskan untuk kembali ke Soekarno-Hatta.
Sedangkan untuk Adam Air, sempat mengudara 20 menit dari Bandara Soekarno-Hatta. Untuk pesawat Sriwijaya Air, sudah melakukan "boarding", tetapi karena mendapat informasi jarak pandang di Pontianak tidak memungkinkan, keberangkatannya ditunda.
Menurut Syamsul Bachri, jarak pandang 400 meter berlangsung hingga pukul 08.30 WIB. Jarak pandang kembali normal pukul 09.30 WIB, mencapai 1.200 meter. "Saat ini semua pesawat telah tiba di Pontianak," jelasnya.
Ia mengatakan, penundaan pendaratan pesawat akibat kabut asap selama kemarau 2006, sudah terjadi dua kali. Sebelumnya, pesawat dari maskapai Sriwijaya Air, juga melakukan RTB ke Bandara Soekarno-Hatta karena kabut tebal menyelimuti kawasan Bandara Supadio Pontianak, Kamis pagi pekan lalu, 17 Agustus.
Syamsul menambahkan, meski dalam tiga hari terakhir hujan telah mengguyur kawasan Bandara Supadio, namun kabut asap masih menyelimuti landasan pacu bandara itu, terutama saat pagi.
Kegiatan pembakaran lahan yang dapat menimbulkan kabut asap tidak terjadi di kawasan pertanian sekitar Bandara Supadio, ia menduga kabut datang dari daerah Rasau Jaya. (*/rit)