Laporan Bank Indonesia (BI) yang diterima Sabtu (26/07) menyebutkan, nilai ekspor nonmigas Bali empat bulan pertama 2006 seluruhnya hanya US$84,9 juta atau perolehan devisanya berkurang terus setiap bulannya.
Ekspor aneka barang nonmigas Bali Januari misalnya US$36,6 juta, kemudian berkurang menjadi hanya US$19,7 juta selama Pebruari, melorot tipis menjadi 19 juta selama Maret dan April hanya US$9,2 juta.
BI mencatat realisasi ekspor berdasarkan asal barang itu sebagian besar dikapalkan memenuhi permintaan konsumen di Asia seharga US$31,3 juta, menyusul Eropa US$26,1 juta dan AS US$19,6 juta selama Januari-April 2006.
Lain halnya hasil catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, nilai ekspor daerah ini selama Januari-April 2006 sebesar US$145,7 juta, atau berkurang 9,6% dibandingkan awal 2005 yang mencapai US$161,3 juta.
Ada perbedaan besar dalam nilai perolehan ekspor nonmigas dari kedua instansi tersebut, karena BI mencatat barang menurut asal barang sedangkan Disperindag berdasarkan surat ekspor yang diperoleh eksporter.
Jadi banyak aneka barang nonmigas luar daerah yang diekspor lewat pulau Dewata, namun hal itu tidak menyalahi aturan sebab darimana pun matadagangan hasil produksi Nusantara dikapalkan tidak dipermasalahkan.
Namun kedua instansi itu tetap mencatat realisasi ekspor Bali berkurang pascabom Kuta seperti dilansir Disperindag bahwa aneka kerajinan hanya mengumpulkan devisa US$63,4 juta, berkurang dari sebelumnya US$79,3 juta.
Hasil industri kecil terutama tekstil dan produk tekstil hanya laku terjual bernilai US$50 juta selama Januari-April 2006, turun tipis jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang mampu mencapai US$53,3 juta.
Hasil pertanian dan perikanan yang diekspor seharga US$16 juta Januari-April 2006, turun sebelas% jika dibandingkan periode sama 2005 yang hanya US$16 juta, hasil perkebunan turun 73% menjadi hanya US$270,9 ribu. (*/rit)