< >

Pertumbuhan Televisi LCD Naik 336%

Minggu, 27 Agustus 2006 16:26
Kapanlagi.com - Pertumbuhan televisi (TV) LCD di dalam negeri 2006 berkisar antara 45.000 sampai 50.000 unit naik 336% dibanding tahun lalu sekitar 15.000 unit.

"Pertumbuhan TV LCD sebesar itu ditunjang oleh kecenderungan harga yang menurun sehingga permintaan meningkat, dan banyak produsen yang meluncurkan produk baru," kata Deputy General Manager Sales & Marketing PT Sharp, Iffan Suryanto kepada pers usai peluncuran produk baru TV Aquas generasi ke delapan di Jakarta, Sabtu malam.

Permintaan konsumen dari tahun ke tahun terus meningkat, karena pertumbuhan televisi LCD di Indonesia masih kecil hanya sekitar satu persen. Karena itu Sharp, meluncurkan produk baru TV LCD generasi ke delapan yang diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar TV LCD, katanya.

Produk baru itu sudah didatangkan dari Jepang awal Agustus dan diharapkan akan terjual sebanyak 6.000 unit tahun ini atau setiap bulan terjusekitar 1.000 unit.

TV LCD ukuran 32 inch sampai 42 inch saat ini banyak diminati masyarakat karena harganya turun dari sekitar Rp30 hingga Rp35 juta menjadi Rp17 juta per unit, bahkan pada tahun berikutnya diperkirakan akan bergeser ke TV yang lebih besar lagi, katanya.

Penurunan harga jual televisi itu berkisar antara 10 hingga 20 persen setiap tiga bulan (per triwulan) yang memicu konsumen untuk membeli TV baru dengan ukuran yang lebih besar.

Dengan peluncuran produk baru itu, Sharp menargetkan pertumbuhan tahun ini mencapai 30 persen, katanya.

Selain itu Sharp telah memperkenalkan TV LCD sejak 2001 dan merupakan produsen utama televisi di Indonesia, namun 2005 pangsa pasarnya turun karena banyak TV selundupan dari negara lain dan TV bajakan yang muncul di pasar gelap.

Ditanya mengenai saingan perusahaan, Iffan mengatakan berasal dari Samsung, Toshiba dan Sony. "Kami optimis masyarakat masih tetap memilih produk ini, karena sudah dikenal masyarakat dan produk ini didukung teknologi tinggi," katanya.

Mengenai produk tersebut masih impor dari Jepang, terutama suku cadangnya, sedang rakitan berasal dari Malaysia, di mana per bulan mencapai 1.200 unit.

Ia mengatakan, Jepang juga akan melakukan investasi baru di Indonesia apabila pasar memungkinkan, selain untuk lebih menghemat waktu juga untuk mengurangi biaya operasional.

Namun investasi baru tersebut masih menunggu RUU investasi pemerintah dan situasi di dalam negeri meski potensi pasar Indonesia dinilai masih cukup besar, katanya. (*/erl)


BERITA TERKAIT