< >

Industri Mesin Lokal Alami Pertumbuhan

Minggu, 27 Agustus 2006 18:22
Kapanlagi.com - Setelah melewati masa krisis ekonomi sembilan tahun lalu, pertumbuhan industri mesin dalam negeri kini mulai mengalami pertumbuhan meskipun secara perlahan.

"Saat ini industri mesin lokal masih dalam masa pertumbuhan, sedang untuk pasaran mesin ataupun komponen penunjang mesin masih di dominasi industri luar negeri. Bisa dikatakan, mesin di Indonesia masih didominasi produk impor," kata Ketua Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia A Safiun, di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan, walau Industri mesin di Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan, namun kalangan industriawan dalam negeri tetap optimis dapat menjadi pesaing produk impor di pasaran ASEAN 2015.

Menurut Safiun, melalui pameran Industri Permesinan Internasional yang digelar dua tahun sekali, diperkirakan industri mesin dalam negeri akan mengalami perbaikan yang hasilnya dapat mendongkrak perekonomian nasional.

Selain itu, Industri mesin dapat maju dan menjadi pemain besar di ASEAN pada 2015 jika pemerintah mendukung industri tersebut melalui kebijakan-kebijakan yang berkesinambungan dan konsisten.

"Pergantian kepemimpinan dalam negeri selalu di ikuti kebijakan barunya. Itu yang dapat menghambat pertumbuhan industri serta menjadi penghalang dalam menuju pasar global," katanya.

Akibat kebijakan baru yang dicanangkan pemerintah pada sektor industri mengakibatkan perusahaan otomotif seperti Daihatsu mengalami penurunan penjualan pada 2005.

Ditanya alasan penurunan penjualan otomotif terkait dengan kebijakan baru pemerintah, ia mengatakan hal itu akibat dari inkonsistensi dan seringnya berubah-ubah kebijakan yang dibuat pemerintah.

Ketika mengyinggung mengenai penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diwajibkan pemerintah terhadap seluruh produk dalam negeri, Safiun mengatakan SNI merupakan bentuk jaminan yang diberikan produsen kepada konsumen penggunanya.

Ia mengatakan, yang berhak mengeluarkan sertifikasi tersebut adalah Lembaga-lembaga sertifikasi yang menjadi rekanan Badan Sertifikasi Nasional (BSN). Tentunya lembaga sertifikasi tersebut sudah memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan BSN.

Pemberian sertifikasi kepada produk-produk di Indonesia bukan merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan industri dalam merambah pasar ASEAN. Selain itu, pemberian standarisasi merupakan bentuk notifikasi dari Organisasi Perdagangan Duania (WTO) di dalam pelaksanaan Mutual Recognition Agreement (MRA), katanya.

Safiun mengatakan, BSN selain menerapkan SNI juga bertanggung jawab melakukan kontrol terhadap produk-produk yang memperoleh akreditasi itu. Lembaga itu juga harus melakukan sosialisasi dan promosi produk lokal ke luar negeri dan memperkenalkan produk tersebut ke dalam WTO.

Ia menyebutkan bahwa produk mesin Indonesia yang sudah terdaftar dalam WTO pada 2004 baru sekitar 18 produk, sedangkan untuk 2006 hanya naik sekitar 10%. (*/erl)