< >

Wisman Mengeluh Tak Nyaman ke Pura Besakih

Selasa, 29 Agustus 2006 12:52
Kapanlagi.com - Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengaku merasa "terpukul" saat melakukan kunjungan dan promosi pariwisata ke sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat yang mengeluhkan ketidaknyamannya wisatawan mancanegara (wisman) saat berkunjung ke obyek wisata Pura Besakih.

"Masyarakat internasional merasa kecewa atas pelayanan yang diberikan saat mengunjungi salah satu obyek wisata andalan di Bali timur," kata Bupati Wayan Geredeg ketika membuka Pemantapan Pramuwisata khusus obyek wisata Besakih, 80 km timur Denpasar, Selasa (29/08).

Ia mengharapkan, para pramuwisata obyek wisata Pura Besakih yang seluruhnya tercatat 285 orang dapat meningkatkan citra Bali, khususnya kawasan suci Pura Besakih kepada dunia internasional.

Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan yang baik kepada setiap pelancong yang mengunjungi obyek wisata tempat suci umat Hindu terbesar di Indonesia.

Bupati Geredeg mengingatkan, selain memberikan pelayanan kepada setiap pengunjung juga dapat memberikan informasi yang benar dan akurat tentang keberadaan pura Besakih.

"Dengan pelayanan yang baik serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, akan merupakan promosi yang sangat baik bagi Bali, khususnya obyek wisata Pura Besakih, karena wisatawan mancanegara setelah kembali ke negaranya akan mengimpormasikan hal itu dari mulut ke mulut," harap Bupati Geredeg.

Kepala Dinas Pariwisata Bali, Drs I Gede Nurjaya dalam sambutan tertulis dibacakan Kasubdis Sumber Daya Pariwisata Diparda Bali, Drs Putu Sudiarta mengakui, pariwisata Bali dalam beberapa tahun belakangan terpuruk akibat tragedi yang beruntun.

Selain jumlah kunjungan wisatawan yang berkurang, juga kualitas kunjungan menurun sebagai akibat pergeseran pangsa pasar. Dengan berbagai upaya pemilihan dan peningkatan atraksi dan produk wisata Bali diharapkan kunjungan wisatawan kembali normol.

"Upaya pemulihan secara bertahap mulai membuahkan hasil, dengan harapan pariwisata yang menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat Bali secara berangsur-angsur pulih," harap Nurjaya.

Sekretaris Panitia Pemantapan pramuwisata tersebut, Ida Ayu Pradnyawati melaporkan, pramuwisata yang biasa mengantar wisatawan ke Pura Besakih sebanyak 285 orang.

Seluruh pramuwisata tersebut mendapat pemantapan yang dibagi dalam dua angkatan masing-masing berlangsung selama dua hari. Materi yang diberikan antara lain kebijakan pariwisata budaya yang menekankan pada keamanan dan dasar-dasar etika pariwisata.

"Selain itu juga meningkatkan citra pariwisata Bali serta peranan tim penataan dan pengawasan kawasan suci Pura Besakih dalam mewujudkan keamanan dan kenyamanan pengunjung," kata Pradnyawati.

Unik dan Sakral

Pura Agung Besakih terletak di lereng kaki gunung Agung (3142) di wilayah Kabupaten Karangasem, terdiri atas beberapa komplek pura menjadi satu-kesatuan tak terpisah satu sama lain, memiliki arti penting bagi kehidupan keagamaan umat Hindu.

Keunikan, kesakralan dan menawannya Pura Besakih selama ini tidak hanya dikagumi dan diakui umat Hindu di Tanah Air, namun juga sangat menarik wisatawan mancanegara.

Perhatian terhadap Pura Besakih dimulai sejak pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (tahun 1007), hingga pemerintahan Raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan (tahun 1444 dan 1454 Masehi).

Perhatian besar sang raja itu, dilanjutkan pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia, yang menaruh perhatian cukup besar, dalam wujud restorasi secara besar-besaran terhadap beberapa komplek bangunan suci yang rusak akibat bencana alam.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah melakukan perbaikan terhadap beberapa bangunan fisik yang rusak, sekaligus menggelar rangkaian upacara keagamaan.

Sejak tahun 1967, Pemprop Bali menyerahkan pengawasan dan pemeliharaan Pura Besakih kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), majelis tertinggi umat Hindu yang kemudian dimandatkan kepada "Prawartaka" Pura Besakih.

Namun, dalam kenyataannya Pemprop Bali bersama delapan Pemkab dan Pemkot secara bergotong royong memperbaiki bangunan yang rusak maupun mendukung pelaksanaan upacara keagamaan, selain peranserta masyarakat luas secara aktif. (*/rit)