< >

Pemerintah Buat Rencana Finansial Pengendalian Flu Burung

Jum'at, 01 September 2006 14:29
Kapanlagi.com - Bayu Krisnamurthi, Ketua Harian Komisi Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza mengatakan pemerintah telah membuat rincian rencana finansial pengendalian flu burung dan menyerahkannya kepada semua pemangku kepentingan yang terkait termasuk lembaga donor.

Bayu mengemukakan hal itu di Jakarta, Jumat, menanggapi pernyataan Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Andrew Steer mengenai masalah tersebut.

Usai mengikuti pertemuan antara pemerintah dan mitra kunci pemerintah dalam upaya pengendalian flu burung pada 24 Agustus lalu, Andrew menyarankan agar pemerintah Indonesia segera menyusun rencana rinci tentang kebutuhan finansial untuk pengendalian infeksi virus flu burung agar lembaga donor bisa membantu mengurangi beban anggarannya.

"Kita menyarankan pemerintah agar membuat rencana finansial detil yang saat ini belum ada supaya jelas pembagian bebannya," katanya.

Terkait dengan hal itu Bayu menjelaskan bahwa rencana finansial pengendalian flu burung itu telah tercantum dalam Rencana Strategi Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza.

"Rancangan dananya sudah ada dan sudah sangat rinci. Dalam rencana pengendalian flu burung telah dicantumkan ada sejumlah strategi, kegiatan dan dananya yang diperlukan, terserah Bank Dunia mau memberi kontribusi pada bagian yang mana," katanya serta menambahkan bahwa pemerintah telah memberikan panduan rencana strategi nasional kepada semua pemangku kepentingan termasuk lembaga donor.

Ia menyebutkan pula bahwa Unicef dan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, yang turut ambil bagian dalam mendukung kampanye nasional pengendalian flu burung, juga memberikan bantuan berdasarkan rencana strategi nasional pengendalian flu burung.

Selain itu, Bayu menjelaskan pula bahwa dalam setiap pertemuan untuk membahas berbagai hal yang terkait dengan upaya pengendalian flu burung pemerintah selalu mengundang perwakilan dari lembaga donor termasuk Bank Dunia untuk hadir dan memberikan masukan kepada pemerintah.

"Kita sudah melakukan rapat dengan Bank Dunia, Andrew Steer juga datang dan ketika itu mereka menyambut serta akan mendukung supaya bisa bekerja lebih baik lagi," ungkapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa flu burung merupakan masalah global sehingga semua pihak selayaknya berpartisipasi dalam upaya pengendalian penyakit mematikan yang ditularkan oleh unggas itu di Indonesia.

"Bukannya Indonesia meminta-minta bantuan dari pihak asing, tapi ini memang masalah global yang penanganannya harus dilakukan bersama-sama," katanya.

Namun demikian, ia melanjutkan, tanpa bantuan dari pihak asing pun pemerintah tetap akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan penularan virus H5N1 di Indonesia.

"Kalau tidak ada bantuan yang datang, kita lakukan sendiri. Kita akan melaksanakan penanganan dengan dana dan sumber daya yang ada pada kita," katanya.

Menurut dia upaya pengendalian flu burung difokuskan pada tiga hal pokok yakni kampanye untuk meningkatkan kesadaran publik, surveilans pada hewan dan manusia serta pengendalian virus pada sumber yang dalam hal ini dilakukan dengan vaksinasi, pemusnahan dan pemberian kompensasi serta peningkatan biosecurity.

Bayu mengatakan dalam rencana tiga tahunan strategi nasional pengendalian flu burung yang telah dibuat oleh pemerintah Indonesia setidaknya membutuhkan dana antara US$250 juta sampai US$260 juta untuk membiayai upaya pengendalian flu burung di Tanah Air.

Namun sesuai dengan kemampuan finansial yang dimiliki saat ini pemerintah hanya bisa mengalokasikan dana pengendalian flu burung sebanyak US$54,4 juta pada tahun anggaran 2006 dan US$46,5 juta pada tahun anggaran 2007.

Sementara bantuan dari lembaga donor internasional, kata dia, pada 2006 hanya senilai US$35,3 juta yang hampir semuanya diserahkan melalui Bank Dunia, WHO dan FAO dan diberikan kepada pemerintah Indonesia dalam bentuk barang dan bantuan teknis.

Sedangkan pada 2007, kata dia, lembaga donor internasional berkomitmen memberikan bantuan senilai US$47 juta untuk membantu pemerintah Indonesia dalam mengendalikan penyakit mematikan yang ditularkan oleh unggas itu.

"Tetapi dana dari lembaga donor itu hingga saat ini masih dalam proses administrasi, dan perencanaan," katanya dengan menambahkan bahwa bantuan dari lembaga donor itu sebagian juga akan diberikan dalam berbagai bentuk termasuk bantuan teknis, peralatan dan obat.

Sementara itu penularan infeksi virus flu burung sendiri hingga saat ini belum mereda di Indonesia.

Sebanyak 29 dari 33 provinsi di Indonesia, telah menjadi daerah endemi infeksi virus flu burung pada unggas.

Kasus infeksi virus flu burung pada manusia pun masih terus muncul secara sporadis di berbagai daerah dan saat ini jumlah pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus H5N1 sebanyak 62 orang dan 47 di antaranya meninggal dunia. (*/rit)