< >

BPS: Surplus Perdagangan Indonesia Juli US$3,44 Miliar

Jum'at, 01 September 2006 22:40
Kapanlagi.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia pada Juli 2006 sebesar US$3,44 miliar, dengan rincian total ekspor mencapai US$8,82 miliar dan impor US$5,38 miliar.

Kepala BPS Rusman Heriawan, di Jakarta, Jumat (01/09), mengatakan perdagangan dengan Amerika Serikat merupakan yang paling menguntungkan.

Nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai US$939 juta, sedangkan impor US$387 juta dengan surplus US$552 juta.

"Sedangkan, kita memperoleh defisit perdagangan dengan China, atau China lebih diuntungkan. Sederhana sekali, dalam pasar ekspor China nomor empat, tapi dalam impor dia nomor dua yang memasukkan barang ke Indonesia," katanya.

Ekspor ke China pada Juli 2006 mencapai US$525 juta, sedang impor mencapai US$462,2 juta. Sementara surplus perdagangan dengan Jepang periode Juli 2006, tercatat US$529 juta, berasal dari ekspor US$980 juta dan impor US$451 juta.

Rusman menjelaskan, ekspor periode Juli 2006 mencapai US$8,82 miliar, naik 4% dibanding periode Juni 2006 sebesar US$8,48 miliar.

"Jadi ini memegang rekor lagi. Selama belum turun, ekspor itu akan tetap rekor terus," katanya.

Dengan demikian, secara kumulatif (Januari-Juli 2006) nilai ekspor mencapai US$55,77 miliar, atau meningkat 16,42% dibanding periode sama 2005 sebesar US$47,91 miliar.

Peningkatan nilai ekspor periode Juli 2006 terutama didorong melonjaknya ekspor nonmigas yang mencapai US$6,77 miliar, naik 0,86% dari Juni 2006 sebesar US$6,71 miliar.

Sedangkan nilai ekspor migas mengalami peningkatan 15,88% dari US$1,7 miliar menjadi US$2,06 miliar. Secara kumulatif (Januari-Juli 2006), ekspor nonmigas tercatat US$43,31 milar, naik 15,65% dari periode sama 2005 sebesar US$37,45 miliar.

Peningkatan ekspor nonmigas terbesar bulan Juli 2006, terjadi pada bahan bakar mineral, seperti batubara yang mencapai US$179,2 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$142,6 juta.

Dibandingn tujuh bulan pertama 2005, kata Rusman, komoditas yang menyumbang kenaikan ekspor nonmigas pada periode sama 2006 yaitu karet dan barang karet sebesar US$1,2 miliar, bahan bakar mineral (batubara) naik US$994 juta.

Kemudian tembaga naik US$463 juta, lemak dan minyak hewan nabati termasuk produk minyak sawit (CPO) sebesar US$415 juta, kertas atau karton naik sekitar US$300 juta.

Ekspor nonmigas ke Jepang pada Juli 2006 mencapai angka terbesar yakni US$980 juta, disusul Amerika Serikat US$939,7 juta dan Singapura US$667,9 juta.

"Kontribusi ke tiga negara itu mencapai 38,24% dari total ekspor nonmigas," kata Rusman.

Sementara ekspor migas periode Juli 2006 mencapai US$2,06 miliar, dengan angka kumulatif (Januari-Juli 2006) ekspor migas mencapai US$12,46 miliar.

Impor Turun

BPS juga mencatat, nilai impor bulan Juli 2006 mencapai US$5,38 miliar, turun lima persen dibanding Juni 2006 sebesar US$5,67 miliar.

Secara akumulasi (Januari-Juli 2006) impor mencapai US$34,26 miliar, meningkat 2,42% dibanding periode sama 2005 sebesar US$33,45 miliar.

Menurut Rusman, impor migas Juli 2006 mencapai US$1,82 miliar, atau turun 14,69% dibanding impor Juni 2006. Penurunan impor, katanya, dipicu penurunan impor migas sebesar US$314,2 juta, akibat penurunan impor minyak mentah dan hasil minyak masing-masing US$93,5 juta dan US$220,7 juta.

Impor non-migas Juli 2006 tercatat US$3,56 miliar, naik 0,88% dibanding impor nonmigas Juni 2006. Sedangkan selama Januari-Juli 2006 mencapai US$23,44 miliar atau turun 2,23%, dengan impor terbesar yakni mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$4,12 miliar.

Negara pemasok barang impor terbesar adalah Jepang senilai US$3,03 miliar (pangsa 12,93%), disusul China US$2,80 miliar (11,94%), Amerika Serikat US$2,37 miliar (10,11%).

Sementara impor dari ASEAN mencapai 19,89% dan negara Uni Eropa 14,74%. Menurut golongan penggunaan impor bahan baku/penolong selama Januari-Juli 2006 meningkat 1,93%, dibanding periode sama 2005, sementara impor barang konsumsi dan barang modal masing-masing meningkat 6,94 dan 2,68%.

"Padahal bulan-bulan sebelumnya impor bahan baku dan penolong masih negatif pada periode Januari-Juni 2006, tetapi sekarang sudah mulai positif. Itu artinya, ada prospek selama tiga bulan ke depan bahwa industri berbahan baku impor mulai menunjukkan kegiatan yang meningkat," katanya. (*/lpk)


BERITA TERKAIT