Dubes Indonesia untuk Rusia, Mongolia, Kazakhstan dan Turkmenistan, Susanto Pudjomartono di Moskow, Rusia, Jumat, mengatakan kesepakatan itu merupakan hasil dari komunikasi bersama kedua negara.
Kini semakin banyak pebisnis Indonesia yang berminat berinvestasi di Indonesia, salah satunya A Sadikin dari Multistrada, produsen ban mobil.
Sebagai pebisnis dia melihat kemajuan ekonomi Rusia dari banyaknya mobil keluaran terbaru di jalanan kota Moskow. Dia juga melihat jalanan kota yang macet hingga pukul 22.00 waktu setempat di saat pulang kerja.
Susanto mengatakan, cadangan devisa Rusia kini mencapai US$250 miliar, lebih besar dari Taiwan yang memiliki cadangan devisa terbesar ke empat di dunia.
Rusia juga memiliki dana stabilisasi sebesar US$60 miliar untuk memperbaiki kehidupan 20% rakyat yang hidup di bawah kemiskinan.
Dana sebesar itu merupakan berkah dari naiknya harga minyak dan Rusia memiliki cadangan gas terbesar di dunia. Rusia juga sudah siap menyelesaikan utang dengan IMF.
"Meroketnya ekonomi Rusia itu hendaknya dapat dimanfaatkan oleh pebisnis Indonesia," katanya.
Ketika ditanya mengenai pinjaman negara sebesar US$1 miliar dari Rusia, Susanto mengatakan sejumlah MoU sedang dipersiapkan bagi kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Rusia, akhir tahun ini.
Mantan wartawan itu mengatakan dirinya tidak tahu pasti kemajuan pembelian pesawat tempur sukhoi melalui kredit US$1 milliar.
Pemerintah Rusia akan mencairkan kredit tersebut secara bertahap US$200 juta per tahun. Peluang bisnis secara barter juga terbuka di Rusia, tidak hanya dengan menggunakan crude palm oil (CPO).
Thailand memanfaatkan produk perkebunan lain untuk perdagangan secara barter dan Indonesia juga bisa mengikutinya.
Di sisi lain, Susanto mengingatkan, standar bisnis di Rusia belum ada karena sebagian masyarakat Rusia tidak percaya pada bank.
"Jadi bisnis di Rusia menggunakan mekanisme tunai. Itu sangat berat bagi pebisnis luar yang menggunakan jasa bank," katanya. (*/lpk)