"Sasaran kita masyarakat yang tinggal di sekitar Cililitan. Cukup satu kali naik kendaraan umum dan busway sudah dapat menjangkau lokasi kami," kata Direktur Utama Pusat Grosir Cililitan, Robert Yapari di Jakarta, Jumat malam disela-sela acara peluncuran Pusat Grosir Cililitan II.
Cililitan merupakan pertemuan angkutan umum dari berbagai wilayah di Jakarta dan berdekatan dengan Pasar Induk Keramat Jati sehingga kehidupan kawasan terus berlangsung selama 24 jam.
Menyangkut keruwetan di kawasan tersebut termasuk keberadaan kakilima, Robert mengatakan, pengelola hanya bertanggungjawab pada areal komersial (perdagangan), sementara keberadaan terminal termasuk kakilima diserahkan kepada Pemda.
"Kami yakin Pemda dapat menertibkan pedagang maupun kendaraan umum sehingga kawasan tersebut tidak semrawut," ujarnya.
Pengembangan PGC II diperkirakan menelan investasi Rp180 sampai Rp200 miliar untuk mengembangkan kawasan menjadi sekitar 110.000 meter persegi, dari luas PGC I seluas 74.000 meter persegi.
Menurutnya, bangunan berlantai 7 tersebut hanya 40 persen merupakan kawasan komersial, sedangkan sisanya merupakan fasilitas umum yang tujuannya untuk memudahkan akses bagi masyarakat yang ingin berbelanja.
"Prasarana yang kita kembangkan dalam PGC II lebih bagus dengan konsep lebih terbuka untuk memudahkan masyarakat yang ingin berbelanja," tukasnya.
Mengenai prospek pusat grosir, Direktur PGC Calvin Lukmantara mengatakan, berdasarkan pengalaman pengembangan pusat perdagangan tidak pernah ada yang gagal sebagai gambaran Kelapa Gading I saat ini sudah sampai II dan III, kemudian ada Pondok Indah I dan II, serta pengembangan Plasa Indonesia dan Plasa EX serta lainnya.
Komoditas yang ditawarkan dalam PGC II juga tidak berbeda jauh dengan PGC I mulai dari tekstil sampai emas serta diyakini akan memberikan keuntungan bagi para pedagang. "Kami menawarkan lokasi yang mudah dijangkau sehingga pedagang tetap diuntungkan," ucapnya.
Terkait hal itu Calvin mengatakan, manajemen akan melakukan presentasi dengan para calon pedagang mengenai keuntungan berdagang di lokasi PGC II yang counter dan kios yang ditawarkan mulai dari harga Rp80 juta sampai dengan Rp500 juta.
"Sebagai bukti saat ini jumlah pedagang PGC I sudah mencapai 1.700 lebih," ucapnya.
Meskipun belum dapat menginformasikan tenant utama dari pengembangan tersebut, Calvin mengatakan, saat ini kios dan counter yang dipasarkan dengan pola hak milik (strata title) sampai 25 tahun telah terjual 90 persen dari sekitar 2.000 counter dan 640 kios.
PGC II diharapkan sudah dapat beroperasi pada Agustus 2007, sedangkan pembangunan tiang pancang I dijadwalkan pada bulan November 2006. "Dengan dimulainya pengembangan PGC II berarti secara fisik pembangunan PGC I selesai," ucapnya.
Mengenai jumlah konsumen yang datang ke kawasan tersebut, dia menggambarkan sebanyak 1.800 orang yang berkunjung setiap harinya, sementara kalau dari kendaran tercatat 1.200 unit setiap harinya.
Sedangkan saat dimintai pendapatnya menyangkut maraknya kehadiran pusat belanja, pengamat properti Panangian Simanungkalit mengatakan, untuk mengukur apakah investasi di trade center dapat dilihat setiap tiga tahun sekali.
"Anda tahu kan, fenomena Mangga Dua yang dibangun tahun 1991 tetapi baru ketahuan prospeknya pada tahun 1994. Hal yang sama juga dialami Roxi Mas. Jadi beri waktu kepada pusat belanja untuk menunjukkan eksistensinya," ucapnya. (*/lpk)