Seminar tersebut diselenggarakan Pusat Kajian Kebijakan (IPS)--sebuah wadah pemikir di Singapura-- dan akan menjadi kali pertama bagi IMF dan BD melepas dominasi sebagai penyelenggara seminar yang bersamaan waktunya dengan sidang tahunan, demikian MediaCorp, dikutip di Batam, Kamis.
Koordinator IMF Singapura Ranil Salgado mengatakan, tema seminar tiga hari tersebut menunjukkan bahwa Asia tidak hanya dilihat dari sisi ekonominya melainkan juga dari sisi potensi intelektualitasnya.
Di seminar, kaum intelektual Asia akan bersuara hingga peserta Barat tidak lagi mendominasi setelah selama ini mengatur agenda dan mendominasi perdebatan, sementara suara Asia tak terdengar di berbagai forum internasional, ujar Salgado.
IPS sebuah institusi think tank yang disegani di Singapura sejak tahun lalu bekerjasama dengan 130 lembaga serupa di Asia untuk merumuskan tema serta pembicara yang tampil.
Direktur IPS Tommy Koh, demikian MediaCorp, mengatakan tema yang sangat Asia itu sekaligus untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Asia, mislanya Kore, kembali bangkit, kuat dan membangun perekonomian yang bersaing.
Koh menyatakan lewat poin khusus dari seminar tersebut adalah untuk mengedepankan pesan bahwa kebangkitan dan peningkatan kesejahteraan Asia, bukanlah ancaman bagi Barat.
Dalam pertemuan itu akan didedah 36 kertas kerja di antaranya dengan topik kebangkitan ekonomi Asia yang dimotori oleh China dan India.
Wakil Direktur IPS, Arun Mahizhan mengatakan topik itu juga bakal membeberkan realitas dan mitos sekitar kebangkitan Asia sekarang
Sidang tahunan IMF dan BD, 19-20 September, di Suntec City Convention akan dihadiri 16 ribu perutusan termasuk 180 menteri keuangan dari berbagai penjuru dunia. (*/rit)