"Padahal potensinya sangat besar mengingat jaringan LKM di Indonesia sangat luas," kata Sekretaris Menteri Negara Perumahan Rakyat (Meneg Pera), Noer Sutrisno kepada wartawan di Jakarta, Selasa.
Noer mengatakan, apabila memasukan Perum Pegadaian sebagai LKM yang didukung 850 kantor cabang, sementara LKM sendiri saat ini tercatat 36.000, kini tinggal bagaimana mengarahkan mereka untuk dapat membiayai perumahan.
Menurut Noer, sasaran pembiayaan itu kepada 3,6 juta rumah tangga yang belum memiliki rumah, dan dari jumlah itu diharapkan dapat memanfaatkan dana APBN sampai dengan Rp360 juta dalam jangka lima tahun mendatang.
Rencananya, sebanyak 40% dari dana itu dapat digunakan untuk membeli rumah baru, sedangkan 60%nya untuk renovasi. Rencana itu akan diperkenalkan kepada seluruh LKM.
Bahkan, katanya, tidak tertutup kemungkinan melibatkan perbankan karena bank biasanya sulit untuk membiayai nasabah yang terlalu mikro. Keberadaan LKM ini dapat menjembatani kesulitan tersebut.
Noer optimistis program ini akan berjalan apabila melihat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) untuk koperasi dan LKM masih dibawah lima% sesuai prinsip perbankan yang sehat. Hanya saja, katanya, saat ini baru ada dua perusahaan penjaminan dan asuransi kredit yang salah satunya PT Askrindo.
Saat ini tercatat 2.000 LKM dengan anggota 30 juta rumah yang sering berhubungan dengan lembaga tersebut. Apabila seperempatnya dapat ikut serta program ini maka sudah memenuhi target pemerintah, katanya.
"Paling penting saat ini memberikan pengertian mengenai tabungan perumahan kepada anggota LKM. Saya rasa prosesnya tidak lama dan sudah dapat segera dijalankan," katanya. (*/rit)