Banyak ahli khawatir krisis politik tersebut dapat mengakibatkan perpecahan lebih jauh di negeri itu menyusul dua pekan protes mengenai kebocoran tentang pengakuan Gyurcsany bahwa ia berbohong mengenai ekonomi agar terpilih kembali pada April.
"Pemilih Hungaria malam ini (Ahad) mendepak perdana menteri yang berkuasa," kata pemimpin partai oposisi konservatif Fidesz, Viktor Orban, pada taklimat setelah pemungutan suara.
Ia mengatakan hasil tersebut --yang memberi sebagian besar suara dalam pemilihan anggota majelis lokal dan dewan kotapraja kepada oposisi, dengan pengecualian di ibukota-- adalah "kemenangan rakyat atas kebohongan".
Presiden Laszlo Solyom, pejabat tak memihak yang memangku jabatan yang kebanyakan bersifat seremonial, juga menceburkan diri ke dalam perseteruan itu.
"Perdana menteri menolak untuk mengakui bahwa ia menggunakan cara yang tak layak untuk mempertahankan kekuasaan ... Ini merusak kepercayaan pada demokrasi," katanya kepada stasiun televisi swasta. Solyon mendesak parlemen agar mempertimbangkan untuk mengakhiri mandat Gyurcsany.
"Parlemen memutuskan siapa yang akan jadi perdana menteri. Parlemen dapat memulihkan kepercayaan masyarakat (pada pemerintah). Mayoritas parlemen memegang kunci bagi penyelesaian," katanya.
Tetapi partai Sosialis, pimpinan Gyurcsany, mengatakan mereka memiliki "kepercayaan penuh" pada perdana menteri, yang dia sendiri tampil untuk secara terbuka mengumumkan ia takkan meletakkan jabatan.
"Kami akan melanjutkan kebijakan kami, sebagaimana saya secara pribadi," kata Gyurcsanya pada suatu taklimat.
Paket penghematan
Ia menambahkan bahwa ia memandang hasil pemilihan umum tersebut lebih sebagai produk paket penghematan yang tak populer dan telah ia berlakukan guna memangkas defisit besar di Hungaria, dan bukan bentuk pemungutan suara, sebagaimana dinyatakan oleh oposisi.
"Mereka yang memulai kebijakan ini dapat segera kehilangan popularitas," katanya.
Komisi Eropa, Selasa, mensahkan paket tersebut, dan menyatakan itu merupakan "yang terpenting" guna memangkas defisit di Hungaria, yang tertinggi di Uni Eropa dengan perkiraan 10,1% dari produk demostrik bruto tahun ini.
Menurut Kementerian Luar Negeri Hungaria, kelompok oposisi meraih kemenangan besar dalam sebagian besar pemungutan suara tersebut di seluruh negeri itu dengan pengecualian di ibukota, tempat walikota saat ini --yang bersekutu dengan Gyurcsany-- tetap bertahan.
Budapest adalah tempat tinggal dua juta orang, atau seperlima dari 10 juta warga Hungaria.
Namun di tempat lain, Fidesz mendominasi perolehan suara, partai itu menang di 18 dari 19 majelis lokal dan meraih mayoritas di 23 kota besar di negeri tersebut. Fidesz dan partai lain oposisi memperoleh 52,62% suara, sementara blok yang berkuasa meraih 37,73% suara.
Terpecah
"Dari sisi politik, jelas bahwa kita tinggal di negara yang terpecah. Ada Budapest dan kemudian ada belahan lain negeri ini," kata pengulas politik Gabor Torok.
Tidak jelas sampai seberapa jauh "skandal kebohongan" itu berdampak pada pemilih, sementara keunggulan Fidesz naik sampai 20 angka bahkan sebelum dimulainya protes anti-pemerintah.
Sampai Senin pagi, tak ada tanda mengenai kerusuhan lebih lanjut anti-pemerintah, tapi pasukan keamanan tetap waspada.
Babak sebelumnya protes yang disulut oleh pengakuan kebohongan oleh Gyurcsany sempat meningkat jadi kerusuhan dua pekan lalu, sehingga sebanyak 250 orang cedera dalam kerusuhan terburuk yang terjadi di jalan di Hungaria sejak berakhiirnya komunisme pada 1989. (*/cax)