Kantor dari administrator internasional di Bosnia yang banyak berperan dalam jalannya roda pemerintahan selama ini sesuai kesepakatan perjanjian perdamaian Dayton 1995 dijadwalkan akan ditutup pada pertengahan tahun depan.
Namun situasi politik menjelang pelaksanaan pemilihan umum masih belum secara penuh memfokuskan kepada masalah masa depan negri itu dimana partai-partai masih menaruh perhatian terhadap perbedaan etnik dan tidak lebih menitik beratkan ke hal reformasi ekonomi serta keanggotaan Uni Eropa.
Lebih dari 4.290 tempat pemungutan suara telah ditutup pada pukul 19:00 waktu setempat (Pukul 00:00 Senin).
Hasil penghitungan suara sementara diperkirakan akan dapat dikeluarkan pada tengah malam waktu setempat (pukul 07:00 WIB).
Selain pemilihan presiden sebanyak 2,7 pemegang hak suara pada saat yang bersamaan juga melakukan pemilihan parlemen dan dewan perwakilan di dua wilayah semi independen Serbs republika Srpska (RS) dan Federasi Muslim -Kroasia.
Serbia Bosnia(RS) juga ikut serta dalam pemilihan presiden sementara Federasi Muslim Kroasia ikut dalam pemilihan dewan perwakilan tingkat daerah.
Jumlah 43,96% dari total pemilih telah menggunakan hak suara mereka demikian hasil pantauan komite pelaksanaan pemilihan umum.
Hal tersebut merupakan jumlah yang terendah sejak perang yang tercatat paling keji di benua Eropa sejak Perang Dunia II yang menyebabkan negara tersebut menjadi hancur porak poranda.
Pada pemilu yang lalu Oktober 2002, dimenangkan oleh kelompok nasionalis Kroasia, Muslim dan Serbia yang memimpin Bosnia melewati konflik inter etnik yang menyebabkan 200 ribu orang kehilangan nyawa.
Perwakilan pihak internasional di Bosnia, Christian Schwarz-Schilling mengatakan kepada wartawan di sebuah tempat pemungutan suara ia mengharapkan para pemimpin dari pemilihan umum kali ini akan segera bekerja dengan sungguh-sungguh.
Tetapi banyak warga Bosnia yang bersikap pesimistis terutama para pemegang hak pilih dari kelompok usia muda dan sebagian besar diantara mereka tidak menaruh harapan apapun dari penggunaan hak pilih yang mereka gunakan.
"Untuk siapa suara yang saya gunakan dan apakah hal itu akan memberikan kehidupan yang lebih baik?, saya tidak melihat satupun (dari calon presiden) yang dapat saya harapkan," kata Sanela seorang pramu niaga usia 23 dari Sarajevo.
Olja, 25, dari Banja Luka menolak untuk menggunakan hak pilih . "Satu-satunya hal yang saya ketahui adalah gaji yang selama ini saya terima sebesar 317 dolar AS dan siapapun yang dipilih tak akan membawa perubahan," katanya lagi.
Bosnia berharap dapat menanda tangani persetujuan dengan Uni Eropa sebagai langkah pertama menuju jalan panjang memperoleh keanggotaan dari uni gabungan kelompok 25 negara pada akhir tahun.
Dari hasil jajak pendapat Perdana Menteri Milorad Dodik dari (SR)dapat mengalahkan calon dari Partai Serbia nasionalis (SDS) untuk pertama kali sejak perang pecah.
Terinspirasi oleh pemilihan di Montenegro yang memutuskan untuk memisahkan diri dari Serbia pada Mei lalu, Dodik menyeru untuk terwujudnya referendum merdeka di Republika Srpska suatu gerakan politis yang tak memiliki dasar hukum sama sekali .
Di wilayah Muslim Kroasia menunjukan separuh dari warga tiga partai yaitu pihak oposisi Sosial Demokrat, Partai tengah bagi Bosnia Hercegovina dan partai Aksi Demoktarik saling kejar mengejar secara ketat.
Tiga pemerintahan wilayah mendukung pemerintahan pusat Bosnia namun diperkirakan dapat menghapuskan kesatuan sehingga ditentang oleh pihak Serbia.
Haris Silajzic, perdana menteri dan menteri luar negri pada masa perang yang dalam jajak pendapat akan memperoleh kursi presiden di wilayah Muslim menyeru kepada masyarakat internasional untuk tetap memainkan perannya dalam pemerintahan Bosnia.
"Saya berharap apabila kepala perwakilan Internasional meninggalkan Bosnia ia akan segera digantikan dengan perwakilan misi Uni Eropa yang lebih berperan ," kata Siladzic tokoh dari kelompok tengah saat ia memasukkan surat suara ke kotak pemilihan di Sarajevo.
Hasil penghitungan suara akan diumumkan dalam waktu 30 hari mendatang. (*/cax)