Ia mengemukakan itu dalam kunjungannya ke Vietnam, tempat ia bertugas sebagai tentara pada ahir 1960-an dalam perang antara negeri itu dengan negaranya.
"Kengerian perang mengingatkan saya akan kebodohan perang," kata senator Nebraska dalam lawatan itu, yang mencerminkan tugas masa perangnya di sana sebagai komandan regu infanteri tahun 1968.
"Perang seharusnya selalu merupakan pilihan terahir," katanya dalam temu pers di Hanoi.
"Pemimpin negara tidak boleh menjerumuskan negara ke dalam perang, kecuali ia sudah berpikir matang akan akibat dari tindakan itu," katanya.
Hagel menyatakan merupakan satu dari beberapa anggota kongres Amerika Serikat, yang menanyakan sejumlah pertanyaan sangat penting tentang berperang di Irak sebelum terjadi.
Ia menambahkan bahwa Irak adalah keadaan dan negara jauh lebih rumit daripada Vietnam.
"Tapi, kami sudah di sana," katanya, "Kami tidak dapat kembali dan melepaskan sejumlah keputusan sangat tidak bijak, yang kami buat."
"Kami harus berhadapan dengan kenyataan, yang kami hadapi sekarang dan itu yang kami lakukan dan itu yang diperlukan untuk mencoba membuat semacam kemantapan dan keamanan, tidak hanya di Irak, tapi di Timur Tengah," katanya.
Wartawan Amerika Serikat Bob Woodward dalam buku barunya, "Negara Penyangkalan", menulis bahwa Hagel pertama memperingatkan Presiden George W Bush tahun 2005 tentang "penggelembungan" oleh lingkaran dalamnya, penasehat Gedung Putih, tentang perang Irak.
Hagel mengatakan kepada majalah "U.S. News and World Report" bulan Juni bahwa Gedung Putih sepenuhnya terputus dari kenyataan.
"Mereka menganggap itu seperti yang mereka harapkan. Kenyataannya adalah kami kalah di Irak," demikian Hagel.
Gerilyawan Irak membunuh dua marinir Amerika Serikat, kata markasbesar sekutu hari Kamis, menjadikan 16 jumlah serdadu negara adidaya itu tewas pekan ini dalam gelombang korban.
"Dua marinir, yang ditugaskan pada regu tempur Resimen 7, tewas pada 4 Oktober, karena serangan musuh ketika bergerak di provinsi Anbar," kata pernyataan, menunjuk pada wilayah Suni di Irak barat, yang merupakan tempat tak aman dari kekerasan gerilyawan.
Pengumuman kematian terakhir itu tiba ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice melakukan kunjungan mendadak ke Irak, meminta pengahiran gelombang kekerasan di negara itu dan berjanji bahwa negara adidaya itu akan menjadi "teman bertanggungjawab bagi Irak".
Kematian itu membuat jumlah tentara Amerika Serikat tewas dalam pertempuran atau dalam kecelakaan ketika terlibat dalam Gerakan Pembebasan Irak sejak serangan Maret 2003 menjadi 2.731 orang, kata hitungan kantor berita Prancis AFP berdasarkan atas hitungan Pentagon.
Rice berunding dengan Perdana Menteri Nuri Maliki dan menemui Presiden Jalal Talabani dan panglima utama Amerika Serikat di Irak Jenderal George Casey.
Kunjungan terahir Rice ke Irak dilakukan pada 26 April bersama Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld untuk mengucapkan selamat kepada Maliki atas pemilihannya untuk membentuk pemerintah gabungan.
Sejak itu, Irak terjerumus ke dalam gelombang kekerasan aliran, yang menewaskan lebih dari 100 orang sehari dan jumlah prajurit Amerika Serikat di Irak meningkat dari 132 ribu menjadi 142 ribu orang. (*/cax)