
"Dari aku masih kecil ritualnya sepertinya tetap sama. Sungkeman sama orangtua minta maaf, makan–makan," ujarnya saat disambangi di Hard Rock Café, Ex Plaza Indonesia, Jakarta Senin (9/10). Tapi sekarang ada sedikit beda, menurut Sania, kalau dulu setelah sungkeman, maaf-maafan dan makan-makan lalu ngantri minta amplop. "Sekarang aku yang diantri dimintai amplop," kelakarnya.
Seandainya dikilas balik, Sania baru merasakan arti sesungguhnya dari puasa saat usianya mencapai 21 tahun. "Sebelum itu puasa, kebanyakan bohongnya, ngakunya puasa sebenarnya ngak," kenangnya tertawa. Baru kesadaran itu muncul saat Sania lulus dari bangku SMA.
"Sekarang ini paling tidak ada satu keyakinan di dalam hati, bahwa puasa itu merupakan satu komitmen kita dalam menjalani hubungan dengan Tuhan. Ada tanggungjawab saya sebagai manusia dengan Tuhan yang menciptakan manusia. Dan kesadaran itu timbulnya dari dalam hati, tidak ada yang bisa memaksa," tandasnya.
Dan pengalaman yang paling berkesan selama menjalankan puasa, saat ia di luar ngeri. Kata Sania, orang-orang bule disana sebenarnya sangat menghargai apa yang dinamakan perbedaan. "Seperti saat saya puasa mereka sama sekali tidak usil, apalagi temen-temen sesama muslim," tukasnya. (kl/wwn)
Lihat Profil: Sania