Ke-32 orang itu, sebagian besar anak-anak, hilang setelah tentara Cina memberondong peluru ke 75 orang yang mencoba melintasi batas negara di daerah pegunungan menuju Nepal pada 30 September lalu, dimana dua orang diketahui tewas.
Aksi penembakan itu terekam oleh video yang diambil oleh kelompok pendaki gunung Eropa, di ketinggian 5.700 meter.
"Kami telah menyerukan PBB untuk menekan Cina karena ada sekitar 32 orang yang hilang setelah insiden itu," kata Urgen Tenzin, direktur Pusat HAM dan Demokrasi Tibet yang berbasis di India.
"Kami yakin mereka telah ditahan oleh penjaga perbatasan Cina, kami ingin mereka dibebaskan," katanya.
Tibet dikuasai Cina sejak pasukan komunis menduduki kawasan tersebut tahun 1950. Warga Tibet menuduh Beijing melakukan tekanan terhadap mereka yang menginginkan kebebasan politik dan beragama yang lebih besar.
Sementara itu pihak Cina mengatakan bahwa aparat perbatasannya telah mengingatkan kelompok warga Tibet yang akan menyeberang perbatasan. Aparat kemudian melepas tembakan untuk menjaga diri setelah kelompok tersebut menyerang mereka.
Dalam rekaman video itu sendiri tidak terlihat bentrokan seperti itu.
Para aktifis mengatakan, insiden itu adalah bukti kuat bahwa Cina masih melanggar hak azazi orang Tibet dan mengatakan bahwa komunitas internasional perlu menindak Beijing. Sebanyak 41 anggota kelompok yang lari dari tembakan itu berhasil mencapai ibukota India hari Minggu setelah 17 hari perjalanan dari Lhasa, lewat Kathmandu (ibukota Nepal).
Mereka akan melanjutkan perjalanan ke kota Dharmasala, tempat pusat pemerintahan Tibet dalam pengasingan dan rumah bagi pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama.
Menurut para aktifis, sekitar 2.500 orang Tibet meninggalkan Cina tiap tahun menuju India, umumnya untuk mencari restu dari Dalai Lama dan menuntut ilmu.
Sebagian besar mereka berasal dari kawasan miskin sehingga terpaksa harus membayar pemandu sekitar 5.000 yuan (633 dolar) yang akan mengantar mereka melintasi pegunungan Himalaya menuju Nepal.
"Umumnya mereka menyadari resiko besar yang harus dihadapi. Selain ancaman dari penjaga perbatasan Cina, mereka juga harus siap dengan cuaca sangat dingin dan terjalnya lereng-lereng pegunungan," kata Tenzin.
Sementara itu Thupten Tsering, biksu berusia 23 tahun yang menjadi anggota kelompok tersebut mengatakan bahwa melintasi perbatasan memang menakutkan namun ia tidak punya pilihan kecuali meninggalkan Tibet.
"Pemerintah Cina telah mulai kampanye patriotik , dimana mereka memaksa kami memusuhi yang mulia Dalai Lama. Tapi kami tidak dapat melakukan itu. Ini (mencintai Dalai Lama) sudah sangat terpatri di hati kami, jadi kami tidak punya pilihan kecuali meninggalkan Tibet" kata Tsering. (*/cax)