< >

Jumlah Pengangguran Asia Pasifik Meningkat

Selasa, 31 Oktober 2006 23:24
Kapanlagi.com - Jumlah pengangguran muda usia 15 hingga 24 tahun, meningkat dari 74 juta orang menjadi 85 juta orang dalam kurun 1995 sampai 2005 di kawasan Pasifik, Asia Timur, dan Asia Selatan.

"Dalam satu dekade terakhir ratusan juta pemuda menganggur dan ratusan juta lainnya bekerja tetapi hidup dalam kemiskinan," kata Direktur Jenderal ILO (International Labour Organization), Joan Somavia, di Jakarta, Selasa (31/10).

Laporan terbaru dari ILO (Organisasi Buruh Internasional) menunjukkan, secara global jumlah pengangguran muda meningkat sebesar 14,8% selama 10 tahun terakhir. Peningkatan terbesar mencapai 85,5% dari 5,2 juta orang menjadi 9,7 juta orang yang terjadi di Asia Tenggara dan Pasifik.

Di Asia Selatan, 13,7 juta orang muda menganggur pada 2005 dan hanya 10% berada dalam angkatan kerja muda di wilayah tersebut. Sementara itu, di Asia Timur, terjadi penurunan pengangguran muda sebesar 8,2% dalam kurun 10 tahun, dari 13,1 juta orang menjadi 12 juta orang.

"Hal itu umumnya diakibatkan penurunan besar-besaran dalam partisipasi angkatan kerja," katanya.

Ia mengatakan, populasi kaum muda di Asia mencapai 54% populasi pemuda di seluruh dunia yang jumlah totalnya mencapai satu miliar orang.

Diperkirakan pada 15 tahun mendatang, Asia Selatan akan mengalami peningkatan populasi penduduk usia muda dari 25% menjadi 28%. Asia Timur justru diperkirakan akan mengalami penurunan dari 20% menjadi 17%.

Laporan ILO menunjukkan, hampir di seluruh belahan dunia, jumlah penduduk usia muda yang menganggur tiga kali lebih besar daripada orang dewasa. Angka itu meningkat tajam di Asia Tenggara dan Pasifik, yaitu jumlah pengangguran muda lima kali lebih besar dibandingkan orang dewasa.

Sementara di Asia Timur dan Selatan, kondisi itu cenderung lebih baik daripada rata-rata pengangguran global, dengan rasio 2,8 penganggur muda untuk seorang penganggur dewasa.

Laporan ILO memperkirakan diperlukan sedikitnya 400 juta peluang kerja yang layak dan produktif untuk memaksimalkan potensi produktif penduduk usia muda saat ini.

"Kendati terjadi pertumbuhan ekonomi, ketidakmampuan ekonomi untuk menciptakan peluang kerja layak dan produktif dalam jumlah memadai memperburuk kondisi orang muda," kata Somavia.

Menurut dia, tren yang mengkhawatirkan itu juga akan mengancam kehancuran prospek ekonomi masa depan yang juga merupakan aset terbesar dunia.

Ia mengatakan, perlu kebijakan dan program nasional, dengan dukungan bantuan internasional, untuk menjangkau penduduk usia muda yang paling rentan serta membawa mereka kembali ke dalam kehidupan masyarakat yang dapat menikmati keuntungan dari keterlibatan mereka. (*/bun)


KOMENTAR PEMBACA


Berita Yang Paling Banyak Mendapat Komentar


BERITA LAINNYA