"Ketebalan kabut asap itu telah diukur di masing-masing kabupaten/kota di Sumbar dan pada dua daerah itu berada di atas standar normal kadar kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri, di Padang, Selasa (31/10).
Menurut dia, meski di atas standar namun kadungan sejumlah partikel berbahaya masih sedikit diantaranya SO2 dan N2O.
Sehubungan itu, dia mengatakan masyarakat kedua daerah tersebut dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah dan memakai masker jika kabut asap semakin tebal.
Terkait gangguan infeksi saluran pernapasan (ISPA) akibat kabut asap, dia mengatakan hingga kini belum ada keluhan dari masyarakat termasuk yang di ke sejumlah rumah sakit yang ada di sekitar lokasi terparah kabut asap.
"Hingga kini kita belum menerima laporan adanya masyarakat yang menderita ISPA akibat kabut asap, namun keluhan gangguan pernapasan ringan cukup banyak," katanya.
Dia mengatakan, hampir seluruh wilayah Sumbar kini menerima dampak terkena kabut asap akibat pembakaran hutan yang terjadi pada daerah tetangga Sumbar yaitu Riau, Jambi dan Bengkulu.
"Kita berharap hujan dapat turun dengan frekuensi yang sering untuk memadamkan api sehingga dampak kabutnya tidak menyengsarakan masyarakat," katanya.
Dia juga menghimbau masyarakat segera berobat ke rumah sakit dan Puskesmas untuk mengantisipasi dampak lebih luas akibat kabut asap. (*/bun)