Kunjungan Direktur Intelijen Nasional AS itu, yang mengawasi seluruh badan mata-mata AS, tidak diumumkan dan dilakukan ketika pasukan-pasukan Amerika dan Irak berusaha mengendalikan gelombang kekerasan sektarian.
Negroponte datang ke Irak tiga hari setelah Penasihat Keamanan Nasional Irak Stephen Hadley mengunjungi Baghdad, dan enam hari setelah Presiden George W. Bush berbicara dengan Maliki melalui hubungan video dari Washington.
Meski ada jaminan berulang kali dari para pejabat Amerika bahwa tidak ada permasalahan antara pemerintah Maliki dan AS, pendukung utama pemimpin Irak tersebut, pekan-pekan terakhir ini terjadi perdebatan publik mengenai kebijakan keamanan.
Maliki mendapat tekanan agar menerima jadwal waktu yang ditetapkan AS untuk melucuti kelompok-kelompok milisi Syiah Irak yang kuat. Namun, ia mengatakan, "Saya seorang teman AS, bukan orang Amerika di Irak."
Sejak itu, pemimpin Irak tersebut memerintahkan pasukan AS yang mencari seorang rekan mereka yang diculik agar meninggalkan sebuah pos penjagaan yang mereka dirikan di kawasan bergolak Kota Sadr Baghdad, yang merupakan markas milisi Tentara Mehdi.
Hal yang tampaknya ketidaksepakatan antara Washington dan pemerintah koalisi Maliki itu telah dimanfaatkan oleh para pengecam rencana perang Bush, sehingga merusak hari-hari penuh harapan Partai Republik kubu Presiden AS itu menjelang pemilihan umum penting Kongres. (*/cax)