Meski dalam kepingan VCD dengan judul "Tragedi Lumpur Panas" berwarna merah menyala tertulis Not For Sale (Tidak Untuk Dijual), namun sejumlah warga di pos ojek tanggul Jatirejo, Senin (06/11), mulai menawarkan VCD itu senilai Rp15 ribu-Rp 20.000 per keping.
"Untuk ongkos ganti merekam, kami tawarkan Rp15 ribu," kata Basori, salah satu warga Kelurahan Jatirejo yang ikut menawarkan VCD pada sejumlah pengunjung luapan lumpur itu.
Basori tampak meyakinkan kepada sejumlah warga yang sengaja datang melihat luberan lumpur untuk membeli VCD yang dijualnya tersebut seperti layaknya penjual VCD profesional yang biasanya mangkal di jalan protokol.
Menurut dia, isi yang terekam dalam tragedi lumpur panas itu mulai dari awal semburan asap di area Sumur Banjarpanji- 1 (BJP-1) hingga kepanikan warga saat semburan lumpur mulai merekah ke permukiman warga di Desa Renokenongo.
"Mulai ada semburan asap pertama kali sampai kondisi sekarang ada semua di sini," katanya.
Namun, sayangnya ia dan beberapa rekannya belum terang-terangan untuk menawarkan rekaman VCD berdurasi 30 menit tersebut.
Mereka tidak langsung membeber dagangannya di atas meja. Namun kepingan VCD itu disimpannya di balik jaket. Baru setelah ada orang atau pengunjung yang melihat tanggul, kemudian didekati dan ditawari VCD itu.
"Kami dititipi teman yang kebetulan mempunyai rekaman semburan lumpur yang menimpa kawasan porong. Gambarnya mulai awal terjadinya semburan, hingga beberapa minggu terakhir, termasuk tenggelamnya Jatirejo yang saat ini menjadi waduk lumpur," kata Agus, warga Jatirejo.
Ide awal menjual VCD lumpur panas ini muncul dibenak Basori, Agus dan warga Jatirejo lainnya saat ada salah satu temannya yang mempunyai rekaman tragedi semburan lumpur panas yang sudah menenggelamkan delapan desa ini.
"Selama ini kami sudah kehilangan pekerjaan, karena rumah dan tempat kami bekerja sudah terendam lumpur. Daripada tidak ada pekerjaan, ketika ditawari salah satu teman untuk menjual VCD lumpur langsung kami terima," katanya. (*/lpk)