Secara teoritis, tekanan ini diakibatkan adanya kontribusi tektonik atau pergerakan lempeng Eropa-Asia dan Australia Hindia.
Pakar Geologi, Sofyan Hadi, dihubungi di Surabaya, Selasa, mengemukakan, tekanan 50 ribu HP itu memang bisa diaktifkan jika ada pergerakan tektonik. Langkah penghentian semburan menggunakan metode reliaf well (pengeboran miring) yang sedang dilakukan diperkirakan akan menemui sejumlah kendala.
Pasalnya, relief well hanya bisa mengatasi semburan, jika tekanannya di bawah 50 ribu HP. Tekanan 50 ribu HP itu didapat dari hitungan volume lumpur yang keluar sebanyak 125 ribu M3 per-hari atau 1,5 M3m per-detik (800 ribu barrel), dengan berat jenis 1,3. Ini artinya, setara dengan material seberat dua ton yang menyembur keluar dari kedalaman 2.000 meter.
Ia menghargai pendapat yang mengatakan bahwa semburan lumpur itu adalah underground blow out (semburan dari bawah permukaan tanah) dan bisa dihentikan dengan relief well.
"Tetapi sejak awal, saya sudah berpendapat bahwa lumpur itu adalah mud vulcano (gunung lumpur) yang berasal dari zaman purba atau sekitar lima juta tahun lalu. Jadi memang sulit dihentikan. Saya berharap ada ordinat yang patah dari pusat semburan, hingga berhenti dengan sendirinya," ungkap Sofyan.
Solusi saat ini yang memang mutlak dilakukan, adalah tetap melakukan pembuangan air dan lumpur ke Selat Madura melalui Kali Porong. Yang penting adalah menyelamatkan manusia dan infrastruktur yang masih ada, seperti jalan tol, rel KA serta pemukiman maupun industri.
Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ini menuturkan, kemungkinan mud vulcano memang trennya sudah ada, karena berdasarkan penelitian, ada garis lurus dari utara menuju timur, yakni dari sumur Banjarpanji-1 Siring, Kalanganyar (sedati-Juanda), Gunung Anyar (Rungkut-Surabaya) dan Bangkalan (Madura).
"Dari daerah-daerah itu diketahui bahwa semburan lumpur semuanya berada di puncak limpasan. Komponen material yang keluar juga sama, yakni berasal dari Selat Madura purba lima juta tahun lalu," tambahnya.
Lumpur purba itu diperkirakan menyembur keluar dengan masa periodesasi 300-500 tahun sekali. Pihaknya juga terlibat bersama Pusat Teknologi Sumber Daya Manusia Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang memperkirakan lumpur ini berhenti sendiri pada 24 hingga 31 tahun ke-depan. Ini dikarenakan, lumpur yang masih ada di bawah dan belum keluar sebanyak 1,1 miliar kubik. (*/lpk)